Kilau Kenangan Hidupkan Nostalgia Ramadan Tempo Dulu

  • 02 Mar 2026 07:48 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Suasana hangat dan penuh memori mengalir dalam program Kilau Kenangan edisi 1 Maret 2026 yang kembali menyapa pendengar sejak pukul 21.00 hingga menjelang tengah malam. Selama tiga jam, siaran menghadirkan nostalgia Ramadan era 1960 hingga 1990-an—periode ketika kesederhanaan, kebersamaan keluarga, dan ritme hidup yang lebih tenang menjadi warna utama bulan suci.

Memasuki Maret 2026, Ramadan kembali hadir membawa refleksi lintas generasi. Host Mika Kartika membuka siaran dengan sapaan, “Gimana puasanya hari ini? Semoga lancar dari sahur sampai berbuka.” Sapaan tersebut langsung mengundang respons hangat dari pendengar di berbagai kota.

Bang Edu Rahmat dari Kampung Melayu menulis, “Yang paling terasa dulu itu suasana sahurnya. Bangun bukan karena alarm, tapi karena suara kentongan dari ujung gang.” Kak Titis di Surabaya pun berbagi, “Kadang aroma masakan dari dapur sudah bikin bangun duluan. Itu yang paling membekas.” Cerita-cerita ini menghadirkan kembali suasana subuh Ramadan yang akrab, ketika interaksi sosial menjadi alarm paling efektif.

Baca Juga: Soundtrack Film Ikonik Warnai Kilau Kenangan

Menjelang magrib, nostalgia berlanjut. Ibu Limani di Bekasi menyampaikan, “Dulu saya lebih sering menunggu di rumah, bantu siapkan meja makan sambil lihat jam dinding. Rasanya lama sekali, tapi justru itu yang dirindukan.” Sementara Bapak Irfan dari Menteng menuturkan, “Saya suka jalan kaki ke pasar jelang magrib, bukan cuma beli takjil, tapi menikmati suasananya.” Momen menunggu berbuka digambarkan bukan sekadar jeda waktu, melainkan ruang kontemplasi yang sarat makna.

Malam Ramadan pun tak kalah berkesan. Pada masa ketika TVRI menjadi satu-satunya stasiun televisi nasional, kebersamaan keluarga terasa lebih intens. Pak Maulana di Pondok Gede menuturkan, “Yang ditunggu itu acara setelah berbuka, karena semua keluarga duduk bersama di ruang tengah.” Bang Jefri di Kelapa Gading menambahkan, “Radio hampir tidak pernah dimatikan selama bulan puasa. Lagu-lagunya terasa lebih syahdu.”

Selain dikenal sebagai penyiar yang konsisten menghadirkan program bernuansa nostalgia, Mika Kartika juga dikenal luas sebagai pengisi suara atau voice over, terutama untuk berbagai serial drama Tiongkok (dracin) yang populer di layar kaca. Karakter suaranya yang hangat dan ekspresif membuatnya lekat di telinga pemirsa, sekaligus memperkuat kedekatan emosional dengan pendengar radio. Dalam siaran tersebut ia menegaskan, “Kenangan itu sederhana, tapi dampaknya bisa panjang. Yang penting kita rawat ceritanya.”

Refleksi tentang perubahan zaman turut mengemuka. Bapak Hadi di Sleman berpendapat, “Menurut saya suasana puasa dulu lebih tenang karena ritmenya tidak tergesa.” Namun Kak Nancy di kawasan Medan Merdeka mengingatkan, “Setiap zaman memang berbeda, tapi yang penting tetap bisa menikmati suasananya.” Perbedaan pandangan ini memperkaya dialog, menunjukkan bahwa esensi Ramadan tetap bertumpu pada kebersamaan.

Menutup siaran pukul 24.00, Mika Kartika menyampaikan, “Terima kasih untuk semua cerita, salam, dan permintaan lagu malam ini.” Melalui alunan lagu-lagu kenangan era 60 hingga 90-an, Kilau Kenangan kembali menegaskan bahwa memori kolektif bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan jembatan emosional yang terus menyatukan generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....