Aroma Manis Roti dari Dapur Inklusif PPKD Jakarta Timur

  • 17 Sep 2026 01:42 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Aroma manis roti yang khas menyeruak di salah satu sudut dapur Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Timur. Boleh jadi, sebab saat itu Intan Natasha sedang menguleni adonan, memberi isian, lalu menata adonan roti di atas loyang untuk dipanggang.

Intan mengikuti program pelatihan bakery yang diselenggarakan PPKD Jakarta Timur. Selama 30 hari kerja, ia akan belajar membuat berbagai jenis roti, mulai dari roti manis, baguette, mini burger, hingga roti gulung.

Intan merupakan peserta tuli yang mengikuti pelatihan. Redaksi berbincang dengannya melalui penerjemah bahasa isyarat. Ia mengaku senang bisa kembali belajar membuat roti dan mengenal lebih banyak jenis olahan bakery.

"Saya lagi belajar bikin roti, pelatihan, belajar supaya nanti bisa bikin kue, roti yang enak. Saya mau supaya orang-orang berkebutuhan khusus seperti kami ini bisa bikin roti dan bahagia. Senang rasanya bikin roti," kata Intan tersenyum, Selasa 15 September 2026.

Dini Islamiyati (depan) sedang memberikan materi pelatihan bakery inklusif di PPKD Jakarta Timur, Selasa 15 September 2026. Selain keterampilan membuat roti, peserta diajari bisnis dan pemasaran melalui media sosial dan e-commerce. (Foto: Berita Jakarta/Andri Widiyanto)

Membuat roti bukan pengalaman pertama bagi perempuan berusia 30 tahun itu. Sebelumnya, Intan sudah pernah mengikuti pelatihan dan membuat roti, tapi ia ingin mengenal lebih banyak jenis olahan hingga suatu saat memiliki toko roti sendiri.

Proses belajar sempat terasa sulit bagi Intan, terutama ketika harus mengenali berbagai bahan dan mengingat tahapan pembuatan. Setelah terus berlatih, ia mulai mampu menghafalkan bahan dan proses yang diperlukan.

"Awalnya susah, banyak. Banyak materinya, bahan-bahannya. Akhirnya saya bisa menghafalkan itu semua dan bisa bikin roti," ujar Intan.

Intan tidak sendiri. Ia mengikuti pelatihan bersama 20 peserta lainnya. Mereka tidak hanya belajar mengolah adonan dan memanggang roti, tetapi juga dikenalkan dengan pengemasan produk, pembuatan merek, pengelolaan bake shop, serta pemasaran melalui media sosial dan e-commerce.

Intan Natasha (kiri) dan Rasya Yasira dengan memberikan toping pada adonan roti di dapur PPKD Jakarta Timur, Selasa 15 September 2026. (Foto: Berita Jakarta/Andri Widiyanto)

Peserta lainnya adalah Rasya Yasira, perempuan berusia 20 tahun dengan disabilitas intelektual. Rasya sudah terbiasa membuat sejumlah makanan di rumah, seperti sourdough, cookies, dan nastar. Dalam pelatihan itu, ia mencoba membuat roti O, blueberry cheese, roti isi sosis, dan pisang keju cokelat.

Rasya mengaku menikmati proses belajar bakery dan tidak merasa terlalu kesulitan mengikuti praktik. Ia berharap keterampilan yang diperolehnya dapat menjadi bekal untuk bekerja atau berjualan.

"Memang sering masak di rumah. Bikin sourdough di rumah, bikin cookies juga, sama bikin nastar,” kata Rasya. Saya pengen banget belajar bakery di sini biar bisa jualan di toko,” ujar Rasya, Selasa 15 September 2026.

Pelatihan dibuat khusus untuk peserta dengan disabilitas. Materi pelatihan disampaikan dengan metode yang dibuat lebih aksesibel. Instruktur pelatihan, Dini Islamiyati mengatakan materi yang diberikan pada dasarnya sama dengan pelatihan bakery lainnya, tetapi cara penyampaiannya disesuaikan dengan kebutuhan belajar peserta.

Peserta pelatihan akan membuat beragam roti manis hingga siap disajikan di bakeshop di PPKD Jakarta Timur, Selasa 15 September 2026. (Foto: Berita Jakarta/Andri Widiyanto)

"Kita bikin resep dan materi semacam kartu visual. Ada angka sama gambar. Kita juga lebih banyak kita kasih video-video, dan tentu ada penerjemah bahasa isyarat di kelas kami," kata Dini usai mengajar peserta pelatihan, Selasa 15 September 2026.

Menurutnya, penyesuaian metode tidak berarti mengurangi materi yang dipelajari peserta. Mereka tetap dikenalkan dengan proses produksi secara lengkap, mulai dari menimbang bahan, membentuk roti, memanggang, mengemas, hingga memasarkan hasil produksi.

"Harapannya mereka jadi lebih berguna untuk diri mereka sendiri, lebih percaya diri juga, dan mereka bisa membuka usaha, peluang usaha baru untuk mereka maupun keluarga mereka," ujar Dini.

Aktivitas di dapur itu akan berlanjut hingga akhir pelatihan, ketika peserta mengikuti uji kompetensi melalui lembaga sertifikasi profesi. Yang lebih penting, setelah pelatihan selesai, Intan, Rasya, dan peserta lainnya berharap keterampilan yang mereka pelajari dapat menjadi bekal untuk bekerja maupun membuka usaha bakery sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....