Dermaga Asa di Ujung Jakarta: Saat Lensa Menangkap Guratan Lelah Nelayan Cilincing

  • 24 Mei 2026 11:15 WIB
  •  Jakarta

RRI. CI. ID, JAKARTA - Di bawah langit Cilincing yang seringkali muram dan tak menentu, aroma garam bercampur bau khas pesisir menyeruak tajam. Di sinilah, di pinggiran Jakarta Utara, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi mereka yang menggantungkan hidup pada restu lautan.

Di antara temali yang menggantung cangkang kerang hijau dan riak air yang keruh, tampak sosok Iyus (49). Wajahnya yang legam menyimpan ribuan cerita tentang kerasnya hidup di pesisir.

Dengan peralatan sederhana—jauh dari kata modern—ia turun ke laut. Bagi Iyus, cuaca ekstrem bukan lagi ancaman, melainkan kawan lama yang harus dihadapi setiap hari.

"Hujan atau panas, dapur harus tetap mengepul," gumamnya lirih. Sabtu 23 Mei 2026.

Kalimat sederhana itu adalah manifestasi dari kasih sayang seorang ayah yang rela kulitnya dipanggang terik matahari dan tubuhnya menggigil didera hujan badai, demi sesuap nasi untuk keluarganya.

Kegigihan Iyus dan rekan-rekan nelayannya ternyata memikat perhatian sekelompok fotografer ibu kota. Belakangan ini, pesisir Cilincing riuh dengan bunyi klik kamera.

Para pemburu visual ini datang bukan sekadar untuk mencari estetika, melainkan untuk merekam jejak perjuangan yang seringkali terlupakan oleh gemerlap gedung pencakar langit di pusat Jakarta.

Aktivitas pemotretan ini menjadi jembatan unik. Di satu sisi, para fotografer mendapatkan momen otentik tentang sisi lain Jakarta yang jujur dan apa adanya. Di sisi lain, kehadiran mereka memberikan angin segar bagi para nelayan.

Selain mendokumentasikan kehidupan pesisir agar lebih dikenal luas, kegiatan ini juga memberikan tambahan penghasilan bagi nelayan seperti Iyus.

Bagi para fotografer, setiap bingkai foto adalah upaya untuk memanusiakan manusia. Sedangkan bagi Iyus, setiap jepretan adalah pengakuan bahwa lelahnya berharga.

Saat matahari mulai memancatkan teriknya, para fotografer mulai mengemasi lensa mereka, Iyus masih di sana. Ia kembali ke laut, membelah ombak dengan perahu sederhananya.

Di balik lensa kamera, kita melihat sebuah karya seni; namun di balik kenyataan, kita melihat sebuah keberanian yang tak kunjung padam dari seorang lelaki tua bernama Iyus.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....