Tak Ada Kata Terlambat: Semangat Salma Merajut Mimpi Melalui Pendidikan Paket B

  • 12 Jun 2026 14:15 WIB
  •  Jakarta

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

RRI. CO. ID, JAKARTA - Di sebuah sudut Cilincing, Jakarta Utara, aroma gurih gorengan risol mulai tercium dari sebuah dapur praktik. Bukan di sebuah kafe atau kursus masak mahal, melainkan di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) 03. Di sana, Salma, seorang remaja kelas 8 Paket B, sedang sibuk bersama teman-temannya. Tangan mereka cekatan melipat kulit risol, sebuah ujian praktik yang lebih dari sekadar nilai, tapi tentang kemandirian.

Selama ini, banyak yang menganggap sekolah kesetaraan atau "sekolah paket" hanyalah jalan pintas bagi mereka yang putus sekolah. Namun, saat berbincang dengan Salma, prasangka itu luruh seketika. Bagi Salma dan kawan-kawannya, SKB adalah rumah kedua yang menawarkan disiplin yang sama ketatnya dengan sekolah formal.

"Jangan pikir bisa datang semaunya," ujar Salma sambil tersenyum. "Kalau telat, ya gerbangnya digembok. Sama saja seperti sekolah biasa." Ujar Salma Kepada RRI Jakarta, Kamis 11 Juni 2026.

Rutinitas di SKB 03 Cilincing memang menepis stigma negatif. Setiap Kamis pagi, mereka berseragam olahraga, berkeringat bersama dalam senam pagi. Mereka belajar, menempuh ujian, dan mengikuti kurikulum yang terstruktur. Ada Paket A untuk tingkat SD, Paket B untuk SMP, dan Paket C untuk SMA. Semuanya dijalani dengan kesungguhan yang sama.

Yang menarik dari sosok Salma adalah prinsipnya. Meski sempat vakum belajar selama tiga tahun, ia tak ingin mengambil "jalan tol". Salma justru memilih menempuh masa studi penuh selama tiga tahun di Paket B. Mengapa? Karena baginya, ilmu jauh lebih berharga daripada selembar kertas ijazah yang didapat secara instan.

"Aku sengaja ambil yang tiga tahun karena mau cari ilmunya lagi. Sebenarnya bisa saja langsung loncat, tapi aku pilih belajar dari awal," ungkapnya.

Hasilnya tak mengkhianati proses. Salma membuktikan bahwa kualitas siswa sekolah paket tak bisa dipandang sebelah mata. Ia pernah menyabet gelar Juara 1 Lomba Cerdas Cermat antar sekolah paket—sebuah pembuktian bahwa di tengah keterbatasan atau jalur pendidikan non-formal, prestasi tetap bisa bersinar terang.

Kehidupan di SKB 03 bukan hanya soal mengejar ketertinggalan akademik. Di setiap momen peringatan 17 Agustus, Hari Pancasila, hingga Hari Kartini, mereka merayakannya dengan gegap gempita. Ada rasa bangga dan identitas yang kuat di sana.

Salma hanyalah satu dari sekian banyak anak muda yang menolak menyerah pada keadaan. Melalui sepiring risol kampung yang ia buat dan buku-buku yang ia pelajari, ia sedang menitip pesan pada dunia: bahwa pendidikan tidak selalu soal gedung megah, tapi soal niat yang kokoh dan keberanian untuk memulai kembali.

"Harapan saya simpel," tutup Salma sore itu. "Bisa jadi lebih baik dari tahun kemarin, dan yang paling penting, bisa bermanfaat buat orang-orang di sekitar saya." ujar Salma.

Di Cilincing, di bawah langit Jakarta Utara yang terik, Salma terus melangkah. Baginya, sekolah paket bukanlah pilihan terakhir, melainkan awal baru untuk menjemput mimpi yang sempat tertunda.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....