Di Balik Kursi Roda, Cerita Daddy Menembus Ketatnya Lowongan di Jakarta

  • 25 Jun 2026 18:17 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Di balik kursi roda, Daddy (53) seorang difabel asal Depok tak kenal letih dalam mencari pekerjaan di gelaran Job Fair di GOR Tanjung Duren, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, pada Rabu, 24 Juni 2026.

Pria pengguna kursi roda itu hadir di tengah padatnya persaingan kerja demi mencari perusahaan yang bersedia menerima kondisinya sebagai pekerja disabilitas.

Bagi Daddy, bekerja bukan sekedar kebutuhan, melainkan prinsip hidup yang ia pegang teguh meski menjalani hidup dengan keterbatasan fisik sejak kecil.

“Karena gimana pun orang-orang seperti saya tetap membutuhkan hidup, dan saya memang dari dulu punya moto bekerja untuk hidup. Jadi walaupun keadaan fisik beda dengan teman-teman yang lain, tapi insyaallah saya bisa,” kata Daddy saat ditemui di lokasi.

Dengan semangat dan senyumnya, Daddy menceritakan bahwa kondisi yang dialaminya bermula ketika ia didiagnosis mengalami kelumpuhan pada tulang belakang atau spondylitis sejak usianya 10 tahun.

“Terus kondisinya makin parah karena ada skoliosis juga, kemiringan tulang belakang karena beban berat sama indikasi kerapuhan tulang. Jadi sekarang saya ke mana-mana pakai kursi roda,” kata Daddy.

Daddy datang seorang diri sari Sawangan, Depok menggunakan transportasi umum menuju lokasi job fair di Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Meski dengan keterbatasan fisiknya, pria berkemeja putih itu ternyata memiliki pengalaman kerja yang panjang di dunia profesional. Dia mengaku pernah bekerja di sejumlah perusahaan jasa komunikasi hingga perusahaan minyak selama puluhan tahun.

“Dulu di Aryobimo saya pernah kerja, terus di oil company bahkan sampai 20 tahun di sana. Bidangnya komunikasi, pernah juga di back office,” tuturnya.

Selain itu, ia juga pernah menangani pengarsipan dokumen dan administrasi surat menyurat. Saat ini, Daddy masih aktif sebagai tenaga lepas administrasi layanan Emergency Call 110 Polri.

“Kalau mereka lagi butuh tenaga atau support di luar, mereka kasih kesempatan buat orang seperti saya bantu-bantu, alhamdulillah,” katanya.

Meski demikian, ia mengaku masih membutuhkan pekerjaan tetap demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Cuma ya di sini saya tetap membutuhkan pekerjaan yang tetap, karena di sana kan hitungannya saya belum tetap. Jadi ya untuk keluarga lah sekarang saya cari,” sambungnya.

Dalam job fair tersebut, Daddy melamar sejumlah posisi seperti frontdesk, administrasi, hingga operator. Namun menurutnya, peluang kerja bagi penyandang disabilitas masih sangat terbatas dan cenderung monoton.

“Memang perusahaan-perusahaan yang saya lamar menerima disabilitas fisik, tapi posisi yang ditawarkan masih terbatas di administrasi atau back office. Mudah-mudahan ke depan lebih banyak kesempatan buat orang-orang seperti saya,” harapnya.

Daddy juga mengakui persaingan kerja bagi kelompok disabilitas kini semakin berat dibandingkan beberapa tahun lalu. Banyak pelamar difabel muda yang memiliki pendidikan tinggi dan kompetensi yang baik.

“Anak-anak muda sekarang yang disabilitas keren-keren, pendidikannya bagus, punya skill juga, jadi secara persaingan memang berat,” katanya.

Meski begitu, Daddy tetap percaya diri dengan pengalaman dan mental yang dimilikinya. Ia mengaku siap terus berjuang dan menawarkan kemampuan yang ia punya kepada perusahaan.

“Kalau yang sudah berumur seperti saya ya sudah siap lah. Dari kecil saya seperti ini, jadi sekarang bagaimana caranya saya fight dan menawarkan skill serta pengalaman yang saya punya,” ujarnya.

Ke depan, Daddy berharap pemerintah maupun perusahaan dapat membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas dan tidak hanya menjadikan mereka sebagai formalitas penerimaan berkas semata.

“Semoga bukan sekadar memberikan kesempatan untuk melamar tapi ada follow up-nya. Ada jawabannya soal diterima atau tidak. Jadi jangan kita sudah capek-capek ngelamar tapi enggak jelas,” keluhnya.

Ia pun memberikan pesan kepada sesama penyandang disabilitas agar tetap percaya diri dan tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah.

“Jangan pernah disabilitas ini kita gunakan untuk belas kasihan. Disabilitas bukan satu halangan, tapi ini kepercayaan dari Tuhan karena Tuhan percaya kalau kita pasti bisa fight, kita bisa berjuang sampai nanti kita menang,” tutup Daddy.

Sementara itu, Ketua Panitia Jakarta Barat Job Fair 2026 dari Suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Barat, Septian Thahir memastikan bursa kerja tersebut terbuka bagi pelamar disabilitas.

“Makanya ini ada difabel, kita ada beberapa perusahaan seperti Alfamart sama Teleperformance, ada yang lain juga,” ujar Septian.

Ia mengatakan, lowongan kerja bagi penyandang disabilitas juga akan tersedia dalam sesi walk-in interview yang digelar di empat kantor kecamatan pada Kamis (25/6/2026).

Selain itu, pihak penyelenggara juga menyediakan fasilitas pendukung berupa juru bahasa isyarat dari Dinas Pendidikan untuk membantu pelamar tunarungu selama proses rekrutmen berlangsung.

“Kita juga menyediakan fasilitas tadi ada teman dari Dinas Pendidikan untuk juru bahasa isyarat. Jadi teman-teman tunarungu nanti kita fasilitasi,” jelasnya.

Septian menegaskan, penyelenggaraan walk-in interview tersebut merupakan upaya untuk membuktikan bahwa proses rekrutmen di job fair berjalan secara transparan dan bukan sekadar formalitas.

“Kalau ada yang bilang job fair itu hanya formalitas, di sini kami mencoba menunjukkan bahwa ada proses rekrutmennya,” tuturnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....