Mengubah Konten Menjadi Solusi: Asa Az-Zahrah untuk Pendidikan Anak Indonesia

  • 19 Jul 2026 15:26 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Bagi sebagian besar orang, konten media sosial mungkin hanyalah sarana hiburan atau sekadar dokumentasi perjalanan. Namun, di tangan Az-Zahrah, setiap unggahan video pendek (reels) adalah peluru yang ditembakkan untuk membela hak-hak anak Indonesia yang terpinggirkan, khususnya di bidang pendidikan.

Ketertarikan Zahrah pada dunia kerelawanan sebenarnya bukan hal baru; ia telah aktif menjadi sukarelawan sejak duduk di bangku SMP. Namun, titik balik yang benar-benar memicu komitmennya untuk fokus pada isu anak terjadi saat ia dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mapres). Dituntut untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, Zahrah tersadar bahwa ia perlu menyatukan seluruh pengalaman kerelawanannya menjadi sebuah gerakan yang tajam melalui pembuatan konten edukatif.

Zahrah menolak menjadi kreator yang hanya memanfaatkan sebuah tragedi demi mendulang penonton. Ketika sebuah kasus pilu menimpa seorang anak di NTT yang nekat mengakhiri hidup karena uang Rp10.000 mencuat ke publik, Zahrah tidak tinggal diam. Di saat konten kreator lain sibuk membahas peristiwa tersebut secara superfisial, Zahrah melakukan riset mendalam dan membedahnya menjadi tiga video edukatif. Ia mengulik mengapa peristiwa itu bisa terjadi, siapa yang harus bertanggung jawab, hingga solusi apa yang bisa dilakukan ke depan.

"Jadi bukan hanya sekadar konten menyoroti peristiwa, tapi ada solusi yang ditawarkan," jelasnya. Sabtu 19 Juli 2026.

Kemampuan Zahrah dalam meriset dan membedah masalah ini rupanya diasah selama ia berkuliah. Meski mengambil jurusan Kehutanan, ia kerap aktif dalam perlombaan karya tulis ilmiah (science writing) tingkat nasional. Bahkan, gagasan programnya mengenai pendidikan kewirausahaan bagi anak-anak putus sekolah di Leuwiliang, Bogor, berhasil mengantarkannya meraih medali emas di ajang bergengsi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang diselenggarakan oleh Kemendikbudristek.

Pengalaman riset itu pula yang membawanya menyaksikan langsung potret buram pendidikan di berbagai daerah. Salah satu momen yang paling menggores hatinya adalah saat berkunjung ke sebuah wilayah di Provinsi Riau. Di sana, ia melihat anak-anak harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai dengan perahu sore-sore hanya demi bisa pergi ke sekolah.

"Waktu itu saya tanya di pinggiran sungai, 'Ini kalau misalnya hujan deras, adik-adik pada sekolah enggak?' Mereka jawabnya, 'Tergantung Kak, kalau bisa lewat kami sekolah, kalau enggak kami balik lagi,'" kenang Zahrah dengan nada prihatin. "Menurut saya itu suatu hal yang menyakitkan. Sejak kapan anak-anak bisa sekolah atau tidak ditentukan oleh cuaca? Ditentukan oleh dari mana mereka lahir? Harusnya enggak itu yang menjadi permasalahan," tegasnya memprotes ketidakadilan akses tersebut.

Kini, melalui akun media sosialnya yang mulai meledak dan ramai sejak tahun 2024, Zahrah konsisten membagikan potongan kisah bermakna. Uniknya, konten yang paling banyak menyentuh hati warganet justru bukan video di dalam kelas, melainkan pelajaran-pelajaran kehidupan, pesan orang tua, serta refleksi yang ia dapatkan saat berkumpul bersama anak-anak di lapangan selama masa pengabdian.

Bagi Zahrah, media sosial adalah jembatan kepercayaan. Dengan membangun kesadaran (awareness) publik melalui cerita-cerita nyata yang ia kurasi, ia berharap masyarakat bergerak bersama, saling berbagi rezeki, dan memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang mimpinya harus kandas hanya karena persoalan cuaca atau biaya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....