Kampung Tanpa Cahaya di Jakarta, Bertahan Hidup di Balik Padatnya Kampung Bandan

  • 20 Jul 2026 10:52 WIB
  •  Jakarta

JAKARTA selalu identik dengan gedung pencakar langit, jalan yang tak pernah benar-benar sepi, dan geliat ekonomi yang terus bergerak. Namun, hanya beberapa kilometer dari pusat aktivitas ibu kota, terdapat sebuah sudut kota yang nyaris tak pernah menikmati kemewahan paling sederhana, yaitu sinar matahari.

Di Kampung Bandan, Jakarta Utara, atap-atap seng, tripleks, dan bangunan semi permanen berdiri begitu rapat hingga menutup langit. Matahari memang tetap terbit setiap pagi, tetapi cahayanya tidak mudah menembus lorong-lorong sempit yang dipenuhi rumah berdempetan. Warga pun kerap menyebut kawasan itu sebagai kampung yang "jarang kena matahari".

Bagi pendatang yang baru pertama kali masuk ke kawasan tersebut, lorong sempit, tangga kayu, kabel listrik yang berseliweran, dan rumah-rumah bertingkat seadanya menjadi pemandangan yang sulit dilupakan. Udara terasa lembap, sementara cahaya alami hanya masuk dari sela-sela atap atau pintu rumah yang terbuka.

Di salah satu kontrakan sederhana itulah Bu Ni menjalani kehidupannya. Perempuan asal Pemalang, Jawa Tengah, itu datang ke Jakarta pada 2004 dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik bersama keluarganya.

Lebih dari dua dekade berlalu, Bu Ni tetap bertahan di Kampung Bandan. Kontrakan yang ditempatinya berukuran kecil dengan biaya sewa Rp450.000 setiap bulan. Ruangan itu hanya cukup untuk sebuah kasur, lemari, dan meja kecil yang menjadi pusat aktivitas keluarganya.

Bagian bawah rumah hampir selalu gelap, bahkan pada siang hari. Ketika listrik padam, ruangan itu berubah menjadi nyaris tanpa penerangan. Sementara lantai atas yang menjadi tempat Bu Ni beristirahat memang sedikit lebih terang karena memiliki teras kecil, tetapi kondisinya jauh dari kata nyaman.

"Kalau dibilang nyaman enggak nyaman, ya kita nikmatin saja," ujar Bu Ni kepada RRI, Senin, 20 Juli 2026.

Ucapan itu terdengar sederhana, tetapi menggambarkan bagaimana sebagian warga Jakarta menjalani hidup dengan menerima keadaan yang jauh dari ideal. Bagi Bu Ni, kenyamanan bukan lagi soal rumah yang luas atau pencahayaan yang cukup, melainkan bagaimana keluarganya masih memiliki tempat untuk pulang.

Rutinitas sehari-hari pun tidak mudah. Untuk mencapai lantai atas, Bu Ni harus menaiki tangga kayu yang curam dan mulai rapuh dimakan usia. Setiap langkah dilakukan dengan hati-hati, terutama ketika hujan membuat anak tangga menjadi licin.

Kesulitan itu semakin terasa saat malam hari. Fasilitas mandi, cuci, kakus berada di bawah permukiman sehingga setiap kali ingin ke kamar kecil, ia harus menuruni tangga dalam kondisi minim penerangan.

"Paling repot itu kalau kebelet malam-malam. Mau enggak mau, biarpun ngantuk kayak apa, ya harus turun tangga buru-buru," ucapnya sambil tersenyum.

Senyum itu seolah menjadi cara Bu Ni berdamai dengan keadaan. Tidak ada keluhan panjang, hanya cerita-cerita sederhana tentang kehidupan yang telah menjadi rutinitas selama bertahun-tahun.

Siang hari menghadirkan tantangan berbeda. Atap seng yang menutupi rumah menyerap panas matahari hingga suhu di dalam ruangan terasa pengap. Ketika udara sudah terlalu panas, Bu Ni bersama ibu-ibu lainnya memilih turun ke bawah rel kereta atau kolong bangunan.

Di tempat itulah mereka menggelar tikar, berbincang, bercanda, atau sekadar menikmati hembusan angin yang tidak bisa mereka rasakan di dalam rumah. Menjelang sore, ketika panas mulai berkurang, mereka kembali ke kontrakan masing-masing.

"Pertama kali ke sini ya kaget, kok Jakarta kayak begini? Tapi lama-lama malah lebih betah di sini daripada di kampung," kata Bu Ni.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa rumah tidak selalu diukur dari bangunan yang megah. Setelah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan tetangga, saling membantu ketika banjir datang, hingga berbagi cerita setiap sore, Kampung Bandan perlahan berubah menjadi rumah kedua bagi dirinya.

Namun, harapan akan kehidupan yang lebih baik tetap tersimpan. Setiap musim hujan, kawasan itu masih kerap dilanda banjir akibat luapan kali yang dipenuhi sampah. Genangan air bukan hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga mempercepat kerusakan rumah-rumah semi permanen.

Bu Ni berharap pemerintah terus memperhatikan kawasan tempat tinggalnya. Baginya, lingkungan yang lebih bersih, saluran air yang berfungsi baik, dan penataan permukiman menjadi kebutuhan mendasar yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Kisah Bu Ni hanyalah satu dari ribuan cerita yang hidup di balik padatnya Kampung Bandan. Di tengah keterbatasan ruang, minimnya cahaya matahari, dan ancaman banjir yang datang silih berganti, warga tetap menjalani hari dengan ketabahan.

Di balik bayang-bayang bangunan yang menutupi langit Jakarta, mereka membuktikan bahwa harapan tidak selalu tumbuh di tempat yang terang. Kadang, harapan justru bertahan paling lama di tempat-tempat yang nyaris tak pernah disentuh cahaya matahari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....