Di Balik Lensa Analog, Potret Keteguhan Nelayan Kerang Hijau di Pesisir Cilincing

  • 19 Jul 2026 07:40 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Pagi itu, langit di perairan Cilincing masih diselimuti kabut tipis. Sebuah perahu kayu perlahan membelah ombak, membawa sekelompok fotografer yang memilih meninggalkan kenyamanan daratan demi mengejar satu hal yang tak bisa direkayasa: kehidupan nelayan kerang hijau.

Di tangan mereka bukan kamera digital berteknologi tinggi, melainkan kamera analog yang hanya menyisakan puluhan jepretan dalam satu gulung film. Setiap tekanan tombol rana menjadi keputusan yang harus dipikirkan matang. Tidak ada layar untuk mengecek hasil. Yang ada hanyalah keyakinan, kesabaran, dan insting membaca cahaya.

Di tengah hamparan laut, para nelayan kerang hijau sudah lebih dulu bekerja. Tubuh mereka tenggelam hingga sebatas dada, menyusuri tali-tali budidaya kerang yang mengapung di antara deretan pelampung. Air laut yang tenang menjadi ruang kerja sekaligus ruang hidup yang telah mereka kenal selama puluhan tahun.

Bagi para fotografer analog, momen itu bukan sekadar objek foto. Senyum nelayan yang tetap merekah di tengah kerasnya pekerjaan, tangan-tangan yang kasar karena air laut, hingga tatapan penuh harapan menjadi kisah yang jauh lebih berharga daripada sekadar komposisi gambar.

Perjalanan di atas perahu berubah menjadi petualangan visual. Ombak yang menggoyang badan, panas matahari yang menyengat, hingga percikan air laut yang sesekali membasahi kamera menjadi bagian dari pengalaman yang tak bisa dipisahkan dari proses berkarya.

"Memotret dengan kamera analog mengajarkan kami untuk lebih menghargai setiap momen. Kami tidak hanya berburu gambar, tetapi belajar memahami kehidupan orang-orang yang ada di depan lensa," ujar Miko salah seorang fotografer di sela perjalanan. Sabtu 18 Juli 2026.

Di balik setiap bingkai film, tersimpan cerita tentang ketekunan para nelayan yang setiap hari menggantungkan hidup pada laut. Mereka bekerja tanpa banyak sorotan, namun menjadi bagian penting dalam menjaga roda ekonomi masyarakat pesisir.

Bagi fotografer analog, laut Cilincing menghadirkan pelajaran berharga. Mereka tidak sekadar pulang membawa gulungan film, tetapi juga membawa pengalaman tentang kesederhanaan, kerja keras, dan hubungan manusia dengan alam yang masih terjaga.

Kelak, ketika film-film itu dicuci dan setiap gambar muncul perlahan di atas kertas foto, yang terlihat bukan hanya wajah seorang nelayan atau hamparan laut. Yang hadir adalah rekaman tentang ketulusan, keberanian, dan harapan yang hidup di antara ombak-ombak Teluk Jakarta.

Perjalanan itu membuktikan bahwa fotografi bukan hanya tentang menghasilkan gambar yang indah. Ia adalah cara untuk mendengarkan kisah yang sering luput dari perhatian, mengabadikan kehidupan yang terus bergerak, dan memastikan bahwa perjuangan para nelayan kerang hijau Cilincing tetap hidup dalam setiap bingkai yang tercipta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....