Saat Jakarta Tidur, Rumah Potong Unggas Marunda Tetap Sibuk

  • 08 Mei 2026 09:30 WIB
  •  Jakarta

SAAT Sebagian besar warga Jakarta masih tertidur lelap, aktivitas di Rumah Pemotongan Unggas atau RPU Marunda, Jakarta Utara, justru mulai menggeliat sejak dini hari. Tempat ini menjadi salah satu titik penting yang menjaga pasokan ayam dan bebek segar untuk kebutuhan kuliner masyarakat ibu kota setiap harinya.

Di bawah cahaya lampu yang temaram dan aroma khas unggas, para pekerja sibuk memotong, membersihkan, hingga menyiapkan pesanan pelanggan. Deru kendaraan pengangkut dan suara pedagang yang saling bersahutan menjadi penanda bahwa roda ekonomi sudah bergerak bahkan sebelum matahari terbit.

Salah satu pekerja sekaligus pedagang unggas di lokasi tersebut adalah Feri. Pria yang sehari-hari bekerja di divisi kontainer Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Priok itu mengaku menjadikan usaha unggas sebagai pekerjaan tambahan untuk menopang kebutuhan hidup keluarga.

“Ini usaha sambilan, mas. Kalau kerja tetap, saya masih aktif di Priok,” ujar Feri saat ditemui RRI Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026. Ia mengatakan, aktivitas di Rumah Pemotongan Unggas Marunda menjadi bagian penting dalam menjaga distribusi pangan Jakarta tetap berjalan stabil.

Menurut Feri, aktivitas paling sibuk dimulai sejak pukul 02.00 dini hari. Para pelanggan tetap seperti pedagang nasi bebek Madura dan penjual ayam goreng datang lebih awal agar mendapatkan unggas yang baru dipotong sehingga kualitas rasa makanan mereka tetap terjaga.

Sementara itu, pembeli umum biasanya mulai berdatangan setelah pukul 05.00 pagi. Rumah Pemotongan Unggas Marunda menawarkan layanan pemotongan hingga pembersihan unggas sehingga konsumen dapat langsung membawa pulang ayam atau bebek yang siap diolah.

“Rata-rata kalau lagi ramai bisa keluar 30 sampai 50 ekor. Tapi kalau pedagang lain yang sudah punya langganan tetap, 100 ekor sehari pun tembus,” ucap Feri. Ia menjelaskan, permintaan unggas biasanya meningkat tajam menjelang hari besar keagamaan seperti Idulfitri dan Iduladha.

Harga unggas di lokasi tersebut juga bervariasi tergantung jenis dan ukuran. Ayam jago dijual sekitar Rp120 ribu hingga Rp130 ribu, sedangkan bebek atau entok yang dikenal dengan sebutan nila dibanderol mulai di bawah Rp150 ribu hingga Rp170 ribu untuk jenis nila tua atau bandot.

“Momentumnya setahun sekali, jadi ada kenaikan harga karena permintaan memang sangat tinggi,” kata Feri. Ia menambahkan, lonjakan harga menjelang hari raya dapat mencapai hingga 50 persen dibandingkan hari biasa.

Rumah Pemotongan Unggas Marunda saat ini menjadi lokasi relokasi bagi sejumlah pedagang yang sebelumnya berjualan di kawasan KBN Marunda. Meski harus beradaptasi dengan lingkungan baru, para pedagang berharap tempat tersebut semakin dikenal masyarakat agar usaha mereka tetap bertahan.

Aktivitas di Rumah Pemotongan Unggas Marunda juga berada dalam pengawasan rutin Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta Utara. Pemeriksaan kebersihan lokasi serta pengawasan stok unggas dilakukan setiap hari guna memastikan kualitas dan keamanan pangan tetap terjaga.

Bagi Feri dan pekerja lainnya, pekerjaan di meja potong unggas bukan sekadar rutinitas mencari penghasilan. Di balik setiap ayam dan bebek yang diproses sepanjang malam, tersimpan tanggung jawab besar untuk memastikan warga Jakarta tetap mendapatkan pasokan pangan segar setiap hari.

Saat langit Marunda mulai terang oleh cahaya pagi, aktivitas di Rumah Pemotongan Unggas perlahan mereda. Namun hasil kerja para penjaga malam itu baru benar-benar terasa ketika hidangan ayam goreng dan nasi bebek tersaji hangat di meja makan warga ibu kota.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....