Kancil yang Tak Lagi Lincah: Meniti Rezeki Harian Demi Dua Buah Hati
- 21 Jul 2026 16:44 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA — Di antara deretan kendaraan yang memenuhi jalanan Jakarta, sebuah mobil mungil beroda empat melaju perlahan. Suara mesinnya khas, tak terlalu bising namun cukup menandakan keberadaannya. Di balik kemudi kancil itu, Bang Amat sibuk memperhatikan sisi jalan, berharap ada penumpang yang melambaikan tangan.
Bagi Bang Amat, kemudi bukanlah hal baru. Ia sudah menggantungkan hidupnya di jalanan sejak belasan tahun lalu. Sebelum membawa kancil pada 2011, ia adalah seorang supir bemo. Ketika era bemo meredup dan perlahan digantikan, kancil menjadi tempatnya beralih untuk terus menyambung hidup.
"Sudah lama masanya. Sebelum kancil ya narik bemo, nah ini gantinya," kenang Bang Amat. Selasa 21 Juli 2026.
Rute utamanya melintasi wilayah Pademangan hingga Kota. Berbeda dengan angkutan umum bertrayek kaku, kancil miliknya memiliki fleksibilitas lebih mirip seperti bajaj. Kendaraan kecil berkapasitas empat penumpang ini bisa disewa atau diarter jika ada warga yang ingin bepergian ke luar rute harian, seperti menuju Manggarai, Tanah Abang, hingga Benhil.
Namun, roda rezeki Bang Amat kini tak lagi berputar secepat dulu. Hadirnya transportasi publik bersubsidi dan gratis seperti JakLingko membawa dampak besar bagi pendapatan para pengemudi angkutan konvensional seperti dirinya.
"Semenjak ada JakLingko ya enggak tentu lah. Dulu sebelum ada JakLingko, bersih sehari bisa bawa pulang Rp250.000, kotornya bisa Rp400.000 sampai Rp500.000," ungkapnya.
Kini, membawa pulang uang bersih sebesar Rp150.000 sehari sudah menjadi kemewahan tersendiri. Angka itu pun diperoleh setelah ia bekerja keras mengumpulkan pendapatan kotor sekitar Rp300.000 untuk menutup biaya sewa armada sebesar Rp120.000 per hari dan konsumsi bensin harian berkisar Rp50.000 hingga Rp80.000.
Di rumah, tanggung jawab sebagai kepala keluarga tetap menunggu. Bang Amat memiliki dua orang anak yang seluruhnya masih mengenyak jenjang pendidikan. Ketika ditanya apakah penghasilan saat ini cukup untuk kebutuhan keluarga, ia tersenyum tipis sebuah tawa pasrah yang menyembunyikan kelelahan.
"Kalau dibilang cukup mah enggak bakal cukup, Mbak. Cuma ya dicukup-cupin aja," ujarnya jujur.
Satu-satunya hal yang ia syukuri adalah tempat tinggal yang sudah milik sendiri, sehingga ia tak perlu memikirkan biaya kontrakan saban bulan.
Meski dihimpit persaingan dan perubahan zaman, Bang Amat tidak menaruh dendam pada perkembangan kota. Harapannya sederhana: kondisi ekonomi kembali membaik dan ada ruang yang lebih adil bagi para penarik angkutan kecil seperti dirinya untuk tetap mencari makan.
Sembari menatap lurus ke depan, tangan Bang Amat kembali kokoh memegang kemudi. Kancil mungilnya kembali menyusuri jalanan Pademangan membawa harapan sederhana seorang ayah demi masa depan anak-anaknya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....