Potret Warga dan Memori Kampung Bandan yang Tergerus Zaman

  • 26 Jul 2026 21:36 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Di balik riuh rendahnya Jakarta Utara yang kian modern, ada kisah-kisah sunyi yang tersimpan di benak para penghuni lamanya. Salah satunya datang dari Pak Santo, pria kelahiran tahun 1959 yang menghabiskan hampir seluruh lini masa hidupnya menyaksikan tanah kelahirannya bertransformasi menjadi belantara beton.

Bagi Pak Santo, wilayah di sekitar kawasan Ancol bukan sekadar titik di peta ibu kota, melainkan ruang penuh memori tempat rumah mendiang ibunya pernah berdiri kokoh. Jauh sebelum area tersebut dipadati oleh bangunan-bangunan tinggi, lanskap wilayah ini sangat berbeda.

"Kalau dulu sih ya, sini masih banyak dikelilingi kuburan," kenang Pak Santo dengan tatapan menerawang. Minggu 26 Juli 2026.

Kepadatan pemukiman yang terjadi saat ini tidaklah instan. Pak Santo masih ingat betul bagaimana kawasan tempat tinggalnya mulai merayap padat sejak dirinya masih duduk di bangku SMP sekitar tahun 1974. Perlahan namun pasti, pendatang mulai berdatangan, dan ruang-ruang terbuka hijau serta area pemakaman mulai beralih fungsi.

Perubahan paling dramatis terjadi sekitar tahun 1990-an. Lahan luas yang dulunya menjadi tempat bernaung keluarga Pak Santo dan warga lainnya yang berstatus sebagai tanah garapan perlahan dibeli oleh perusahaan swasta, salah satunya PT Duta Pertiwi.

"Ini rumah emak saya dulu... tahun 90-an kalau enggak salah dibeli sama PT di sini," ujar Pak Santo sambil menunjuk area yang kini telah berubah drastis.

Yang memilukan, proses pembongkaran itu terjadi tak lama setelah ibundanya berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Kehilangan rumah masa kecil sekaligus kehilangan figur ibu menjadi pukulan emosional yang mendalam baginya.

Kini, rumah tempat ia bertumbuh telah tiada, digantikan oleh bangunan komersial megah berupa grand butik dan pusat perbelanjaan. Sebagian warga memilih pergi dan pindah, namun sebagian lainnya termasuk Pak Santo masih memilih bertahan di sekitar sisa-sisa lahan yang ada di tiga RT di bawah naungan RW 05, Kelurahan Ancol.

Meski lingkungan tempat tinggalnya kini semakin sempit, pengap, dan dibayangi oleh kepungan modernitas, Pak Santo memilih berdamai dengan keadaan. Baginya, kenyamanan bukan lagi soal luasnya rumah atau tenangnya suasana, melainkan tentang bagaimana ia merawat sisa-sisa kenangan masa lalu di tanah kelahiran yang telah membesarkannya.

"Namanya kita kelahiran sini, jadi ya dibilang nyaman enggak nyaman, ya kita nikmatin saja," pungkasnya dengan senyum kecil yang getir namun sarat ketabahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....