Kisah Casmadi: Laut Menjauh, Penghasilan Menyusut

  • 14 Apr 2026 19:30 WIB
  •  Jakarta

CASMADI (54) Berdiri di atas perahunya dengan tatapan jauh ke arah laut yang kini tak lagi sama. Selama lebih dari 20 tahun, ia menggantungkan hidup dari perairan Cilincing, namun belakangan jalur melaut yang dulu dekat dan ramah berubah menjadi panjang, sempit, dan penuh risiko.

Casmadi masih mengingat betul masa ketika laut hanya berjarak 10 hingga 15 menit dari perahunya untuk mendapatkan ikan. Kini, waktu tempuh itu bertambah jauh karena area tangkapan bergeser akibat aktivitas proyek yang menjorok ke muara.

Dari laut untuk hidup, kini nelayan harus berjuang di laut yang makin sempit. (Foto: RRI/Ilyas)

Baca juga:

"Dulu sebelum ada pembangunan, cari ikan 10-15 menit sudah dapat. Sekarang harus lebih jauh lagi," ujar Casmadi saat diwawancarai RRI Jakarta, Selasa 14 April 2026.

Perubahan itu bukan hanya soal jarak, tetapi juga soal penghasilan yang terus menyusut. Ia mengaku, dahulu pendapatan kotor hingga Rp1 juta per hari bukan hal sulit, namun kini angka itu menjadi target yang sulit dicapai.

"Kalau untuk akses, jelas mengganggu. Terlalu menjorok ke arah muara. Kalau ada ombak dan kipas kapal kena sampah, kapal bisa gagal kendali dan pasti menabrak tiang itu," ujar Casmadi

Ia juga menyoroti perbedaan persepsi antara pengembang dan nelayan mengenai lebar akses jalan. Meski dari daratan terlihat luas, medan di laut jauh lebih sulit karena faktor arus dan gelombang.

"Kalau di darat memang kelihatan lebar, tapi di laut beda lagi. Kalau ada ombak besar, arah kapal bisa bergeser. Kami khawatir kapal terbentur beton atau tiang pancang itu," kata Casmadi menambahkan.

Bagi Casmadi dan ratusan nelayan lain, laut bukan sekadar tempat bekerja, melainkan ruang hidup yang menentukan keberlangsungan keluarga mereka. Namun, kehadiran proyek perlahan mengubah lanskap tersebut menjadi ruang yang semakin terbatas.

Ketua Komunitas Nelayan Cilincing (KUNCI), Edi Kurniawan, menyebut jalur laut yang sebelumnya lebar kini menyempit drastis. “Kemarin ada yang berpapasan saat mau keluar, terus kena sampah. Perahunya pinggir-pinggir terus kena waterbridge. Akhirnya sempat dievakuasi oleh teman-teman yang bekerja di situ,” ujar Edi saat ditemui di lokasi aksi protes. Aksi dilakukan melalui parade kapal di kawasan Tanggul Retensi Cilincing, Selasa, 14 April 2026.

"Sebenarnya isu ini sudah ada sejak Jumat kemarin," ujar Edi sembari menunjuk ke arah gundukan pasir yang kini menjadi penghalang.

"Teman-teman sudah mau bereaksi, tapi kami tahan-tahan. Kami ingin jalur yang jelas, itu saja," kata Edi.

Persoalan ini bermula dari dua proyek yang berjalan beriringan. Edi bercerita dengan nada getir betapa kontrasnya perlakuan kedua pemilik proyek kepada warga pesisir. Jika pihak proyek datang dengan sosialisasi dan dialog dianggap hadir seperti tamu tak diundang yang tiba-tiba menutup pintu rumah mereka.

“Tiba-tiba sudah jadi saja,” ujarnya singkat, namun sarat kekecewaan.

Ia menjelaskan, penyempitan jalur menciptakan kondisi seperti corong yang harus dilalui ratusan kapal setiap hari. Dalam situasi cuaca buruk, kondisi ini meningkatkan risiko kecelakaan, mulai dari perahu tersangkut hingga potensi tabrakan.

“Kalau hujan dan angin barat datang, itu yang kami khawatirkan. Nyawa bisa jadi taruhan,” kata Edi.

Risiko tersebut bukan sekadar prediksi, melainkan sudah terjadi di lapangan. Beberapa nelayan dilaporkan mengalami insiden akibat baling-baling tersangkut sampah dan material proyek di sekitar area pembangunan.

Meski menghadapi tekanan, nelayan Cilincing menegaskan tidak menolak pembangunan. Mereka hanya meminta agar proyek tetap memperhatikan akses jalur melaut yang aman dan tidak mengganggu aktivitas tradisional.

Sementara itu, GH Sekretariat Perusahaan Pelindo, Ali Sodikin, menyatakan pihaknya menghormati aspirasi masyarakat pesisir. “Kami memahami bahwa keberadaan dan kelancaran aktivitas nelayan merupakan bagian penting dari ekosistem pesisir yang perlu dijaga bersama, selaras dengan Proyek Strategis Nasional NPEA,” ujar Ali.

Ia menambahkan, proyek yang berjalan telah mempertimbangkan aspek keselamatan dan keberlanjutan lingkungan. Pelindo juga membuka ruang dialog dengan nelayan sebagai bagian dari perbaikan ke depan.

Bagi Casmadi, harapan itu sederhana: laut yang tetap bisa diakses tanpa rasa khawatir. Di tengah deru mesin proyek dan sempitnya jalur yang tersisa, ia dan nelayan lain masih bertahan, menunggu kepastian apakah ruang hidup mereka akan tetap ada di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....