Potret Pejuang Jalanan, 15 Tahun Menantang Kemacetan Tanjung Priok

  • 29 Mei 2026 10:44 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Di balik deru mesin dan kepulan asap di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, tersimpan kisah perjuangan para sopir kontainer yang mengadu nasib setiap hari. Salah satunya adalah Jupri (43), seorang sopir veteran yang telah mendedikasikan 15 tahun hidupnya di balik kemudi truk besar untuk PT Era Ratu Primaraya.

Setiap harinya, Jupri menempuh rute rutin dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pulogadung, atau terkadang masuk ke terminal peti kemas JICT. Barang yang diangkutnya pun beragam, mulai dari billet (baja), steel coil, besi tua (scrap), hingga kontainer standar.

Namun, pengabdian belasan tahun ini bukan tanpa hambatan. Kemacetan total di wilayah Tanjung Priok menjadi "musuh" utama yang paling menguras emosi dan tenaganya.

“Suka dukanya, kalau di Tanjung Priok lagi macet total, kami sangat mengeluh. Sangat lelah sebenarnya. Apalagi kalau macetnya parah seperti kemarin-kemarin,” ujar Jupri saat ditemui RRI Jakarta di sela kegiatannya. Kamis 28 Mei 2026.

Sistem Borongan: Berpacu dengan Waktu dan Biaya

Jupri menjelaskan bahwa penghasilannya sangat bergantung pada kelancaran jalan. Menggunakan sistem "borong", ia menerima sejumlah uang yang kemudian harus dipotong sendiri untuk biaya operasional seperti bahan bakar (solar), biaya tol, hingga uang makan selama di perjalanan.

Jika kondisi jalan lancar, ia bisa mendapatkan dua rit (dua kali balik) dalam sehari dengan sisa penghasilan bersih sekitar Rp100.000 per rit. Namun, kenyataan di lapangan seringkali jauh dari harapan.

“Kalau lagi lancar, bisa dapat dua rit. Sisa bersihnya sekitar Rp100.000 per rit. Tapi kalau lagi macet parah, satu rit bisa memakan waktu sampai dua hari. Kalau sudah begitu, sisa uangnya kadang cuma cukup buat risiko uang makan saja,” keluhnya.

Harapan kepada Pemerintah

Meski masyarakat seringkali menganggap truk kontainer sebagai penyebab kemacetan, Jupri menekankan bahwa para sopir justru menjadi pihak yang paling dirugikan. Mereka harus bekerja siang dan malam secara non-stop di tengah kepungan macet dengan penghasilan yang tidak menentu.

Melalui kesempatan ini, Jupri menyampaikan harapannya kepada pemerintah agar memberikan perhatian lebih pada pengaturan lalu lintas di wilayah Jakarta Utara, khususnya akses menuju Pelabuhan Tanjung Priok.

“Harapan saya kepada pemerintah, mohon dibantulah supaya kemacetan di wilayah Tanjung Priok ini bisa dikurangi. Kami ini sudah penghasilan kecil, dihajar macet setiap hari, kerja siang malam begadang. Tolong perhatikan sisi kemacetannya,” pungkas Jupri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....