Bahasa Sasak Bertahan di Tengah Ancaman Kepunahan
- 10 Jan 2026 17:39 WIB
- Jakarta
BAHASA Sasak sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia menjadi identitas kultural utama masyarakat Lombok. Di sisi lain, tekanan modernisasi, dominasi bahasa Indonesia, dan lemahnya pewarisan antargenerasi membuat bahasa ini kian terdesak.
Bahasa Sasak merupakan bahasa bertanah asal Pulau Lombok yang juga dituturkan di sejumlah wilayah transmigrasi Sulawesi Tenggara. Menurut laman Kemendikdasmen yang kami akses pada Sabtu, 10 Januari 2026, bahasa ini hidup berdampingan dengan bahasa lokal lain seperti Muna, Cia-Cia, dan Lasalimu-Kamaru di Kabupaten Buton dan sekitarnya.
-1920x1080/gzpjmqyhqdxm8h1.jpeg)
Widyabasa Ahli Pertama Balai Bahasa NTB, Rizki Gayatri, menegaskan krisis bahasa merupakan ancaman nyata yang dapat menimpa bahasa daerah, termasuk Bahasa Sasak, jika tidak diwariskan secara berkelanjutan.
Namun, kesamaan bahasa tidak selalu berarti keberlangsungan yang aman. Hasil penghitungan dialektometri atau pengukuran jarak perbedaan bahasa/dialek dengan angka, menunjukkan perbedaan dialek Bahasa Sasak di Lombok dan Sulawesi Tenggara mencapai 78 persen. Angka itu menandakan satu bahasa yang sama, tetapi dengan variasi yang semakin menjauh secara sosial dan geografis.
Widyabasa Ahli Pertama Balai Bahasa NTB, Rizki Gayatri, menyebut kondisi ini sebagai alarm dini. “Krisis bahasa itu nyata dan bisa menimpa siapa saja, bahkan negara maju,” ujar Rizki dalam Program Suara Budaya Nusantara di 92,8 FM Pro 4 RRI Jakarta pada Jumat, 9 Januari 2026.
Dalam siaran itu, ia menyinggung kisah penutur tunggal di Amerika Serikat yang hanya mampu merekam kata terakhir sebelum bahasanya punah. “Pertanyaannya, apakah kita rela Bahasa Sasak menjadi korban selanjutnya?” kata Rizki Gayatri.
Base Alus yang Mulai Ditinggalkan
Ancaman paling nyata datang dari dalam. Jurnal ilmiah Universitas Mataram mencatat terjadinya pergeseran signifikan dalam penggunaan base alus, tingkat tutur halus Bahasa Sasak yang sarat nilai kesantunan dan hierarki sosial.
Penelitian yang dilakukan di sepuluh kecamatan di Lombok menunjukkan penguasaan kosakata base alus di kalangan generasi muda tergolong rendah. Faktor utamanya adalah minimnya pewarisan bahasa dari orang tua di rumah, serta dominasi bahasa Indonesia di hampir semua ranah komunikasi.
Sebagai langkah penyelamatan, Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat atau NTB mempercepat penyusunan kamus Bahasa Sasak yang kini telah mencapai sekitar 6.000 lema. Kamus itu berupaya merangkum berbagai dialek yang tersebar di Pulau Lombok.
“Jumlah itu masih tergolong sedikit, sehingga perlu terus dikembangkan,” ujar Rizki Gayatri. Menurutnya, dokumentasi bahasa bukan sekadar pengarsipan kata, melainkan upaya menjaga memori kolektif masyarakat.
Balai Bahasa juga mengembangkan kamus bergambar untuk anak-anak. Salah satu contohnya adalah pembedaan kata brunas, mopo, dan biso, yang sama-sama bermakna mencuci, tetapi memiliki konteks penggunaan berbeda. Pendekatan visual ini diharapkan menumbuhkan kedekatan emosional anak dengan bahasa ibu.
Bahasa hidup karena dipakai. Tanpa keberanian menggunakan Bahasa Sasak dalam percakapan sehari-hari dan ruang digital, seluruh upaya dokumentasi berisiko menjadi arsip mati.
“Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi penanda jati diri,” kata Rizki. Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif agar Bahasa Sasak tetap bergema di rumah, sekolah, dan media sosial.
Jika bahasa ibu lenyap, yang hilang bukan hanya kata, tetapi cara pandang, etika, dan sejarah sebuah komunitas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....