Menembus Asa di Hadapan Bara: Kisah Setia Agus Pengawal Perjalanan Jenazah
- 25 Jul 2026 13:35 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA — Di hadapan tungku pembakaran berteknologi layar sentuh yang membara hingga suhu 350°C Muhammad Agus (48) berdiri tegak. Tak ada raut ragu di wajahnya, meski ia tahu persis bahwa setiap saat keselamatan nyawanya menjadi taruhan di ruang yang sunyi namun membara itu.
Hampir tiga dekade silam tepatnya sejak tahun 2000 Agus menginjakkan kaki di krematorium ini. Berawal dari petugas keamanan yang kerap diperbantukan, pria ini belajar secara otodidak. Jalan hidup membawanya berpindah dari sekadar menjaga gerbang menjadi pengawal perjalanan terakhir bagi puluhan ribu jiwa.
"Awalnya pasti ada rasa takut," kenang Agus kepada RRI Jakarta, Sabtu 25 Juli 2026.
Pekerjaan ini tak pernah sederhana. Mengoperasikan mesin pembakaran otomatis menuntut konsentrasi tingkat tinggi. Salah sedikit saja dalam memperkirakan bobot jenazah, ketebalan peti, atau pengaturan suhu, akibatnya bisa fatal.
Duka dan ancaman bahaya sering kali hadir tanpa diundang. Di dalam ruang tertutup peti jenazah, sering tersimpan benda-benda terlarang yang tak diketahui petugas—mulai dari botol parfum hingga ponsel dan baterai yang rentan meledak saat diterpa api.
"Kalau ada bahan yang mudah meledak atau kertas yang menutup lubang angin, hawa panas tertahan di dalam. Mesin bisa mati otomatis karena trouble," ungkapnya menceritakan situasi menegangkan yang kerap dihadapi.
Tak hanya ancaman ledakan, perbedaan proses modern dan tradisional pun menjadi bagian dari asam garam pengalamannya. Jika pembakaran modern dengan suhu terukur mempertahankan bentuk struktur tulang, proses kayu bakar tradisional membutuhkan waktu hingga 3,5 jam dan menghancurkan tulang hingga hancur berkeping-keping.
Meski begitu, di tengah keretakan mesin dan kepulan asap, Agus tak pernah berpaling. Baginya, tugas ini bukan sekadar urusan teknis membakar dan mengumpulkan sisa abu, melainkan sebuah amanah moral yang luhur. Menatap abu yang mendingin selalu mengingatkannya pada satu hal: bahwa pada akhirnya, tak ada yang abadi di dunia ini selain kebaikan dan dedikasi tulus yang ditinggalkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....