Program Pendampingan UMKM YIS Buka Peluang Ekonomi Baru

  • 10 Jul 2026 23:13 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Program pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dijalankan Yayasan Indonesia Setara (YIS) tidak hanya mendorong peningkatan omzet pelaku usaha, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Hal tersebut dialami Ningsih, pemilik usaha Tahu Baso Mama Ulum di Jatinegara, Jakarta Timur.

Setelah mengikuti program inkubasi dan pendampingan YIS, omzet usaha yang telah dirintis selama 10 tahun itu meningkat menjadi sekitar Rp16 juta per pekan, dari sebelumnya berkisar Rp7 juta hingga Rp8 juta per minggu.

Meningkatnya permintaan membuat Ningsih tidak lagi mampu menangani seluruh proses produksi seorang diri. Ia kemudian mengajak sejumlah tetangganya untuk membantu membuat tahu bakso.

“Dulu saya mengerjakan semuanya sendiri. Sekarang karena pesanan semakin banyak, saya mengajak tetangga ikut membuat tahu bakso,” ujar Ningsih, melalui keterangan tertulis, Jumat, 10 Juli 2026.

Menurut dia, keterampilan yang diperoleh para tetangganya selama membantu proses produksi akhirnya menjadi modal untuk membuka usaha sendiri. Kini, beberapa di antaranya telah menerima pesanan tahu bakso secara mandiri sehingga memperoleh tambahan penghasilan bagi keluarga.

“Dampaknya bukan hanya dirasakan saya dan keluarga. Banyak tetangga yang sekarang bisa berjualan tahu bakso dan mendapatkan tambahan penghasilan setiap hari,” katanya.

Perjalanan usaha Ningsih dimulai dari berjualan jamu keliling menggunakan sepeda. Setelah memutuskan berhenti karena ingin lebih banyak mendampingi anaknya yang mulai bersekolah, ia beralih memproduksi tahu bakso dengan memanfaatkan pengalaman suaminya yang pernah berjualan bakso keliling.

Pada tahap awal, produk tahu bakso dipasarkan melalui jaringan teman yang menawarkan dagangan ke kantin sekolah, perkantoran, hingga pedagang sayur. Seiring waktu, produk tahu bakso beku berbahan daging ayam dan sapi tersebut semakin dikenal masyarakat.

Perkembangan usahanya semakin pesat setelah mengikuti bazar dan coaching clinic di Kecamatan Jatinegara pada 2018. Dalam kegiatan itu, Ningsih bertemu dengan Coach Ida Noor Meida, Mitra Inkubator Yayasan Indonesia Setara, yang kemudian mendampinginya mengembangkan usaha.

Melalui program tersebut, Ningsih memperoleh pelatihan mengenai penyusunan harga pokok produksi (HPP), strategi pemasaran digital, pemanfaatan media sosial, hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung promosi produk.

“Sepuluh tahun lalu saya masih berjualan jamu gendong. Sekarang Alhamdulillah omzet usaha sudah mencapai sekitar Rp16 juta per minggu dari bakso tahu. Pendampingan ini membuat saya lebih percaya diri memasarkan produk melalui media sosial dan menerapkan ilmu yang saya dapat selama pelatihan,” ujarnya.

Sementara itu, Founder Yayasan Indonesia Setara, Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan peningkatan kapasitas UMKM memerlukan pendampingan yang berkelanjutan, tidak hanya dukungan permodalan.

“Pendampingan harus menghasilkan dampak yang nyata. Ketika pelaku UMKM memperoleh keterampilan baru, mampu memanfaatkan teknologi digital, dan memperluas pasar, maka usaha mereka akan tumbuh dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat di sekitarnya,” kata.

Ia menambahkan, keberhasilan UMKM tidak semata-mata diukur dari peningkatan omzet, tetapi juga dari kontribusinya dalam menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Keberhasilan sebuah UMKM bukan hanya diukur dari kenaikan omzet, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, dan menginspirasi pelaku usaha lain untuk berkembang bersama,” ujarnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....