Buruh Pengolah Limbah Ikan Tetap Gigih Bekerja tanpa Jaminan Sosial
- 19 Jun 2026 11:05 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Potret pekerja sektor informal kembali terlihat dari kisah Winata (40), seorang buruh pengolah limbah tulang ikan di Cilincing, Jakarta Utara, yang tetap bekerja keras setiap hari meski belum memiliki perlindungan jaminan sosial. Pada Kamis, 18 Juni 2026, ia menceritakan perjuangannya mengolah limbah ikan menjadi bahan baku pakan ternak demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Setiap hari, Winata memulai aktivitasnya sejak pukul 07.00 WIB hingga menjelang Maghrib. Bersama dua rekan kerjanya, ia menjemur dan mengolah tulang ikan tongkol agar memenuhi standar kualitas yang ditetapkan pabrik pakan ternak.
Pekerjaan tersebut tidak hanya mengandalkan sinar matahari, tetapi juga membutuhkan ketelitian dalam memecah bagian kepala dan tulang ikan yang masih utuh. Langkah itu dilakukan agar proses pengeringan berlangsung merata hingga ke bagian dalam tulang.
"Permintaan dari pabrik itu kadar airnya harus di kisaran 10 persen. Kalau tidak dipecahkan dulu tulang-tulangnya, tidak akan bisa kering sampai ke dalam," ujar Winata saat ditemui RRI Jakarta.
Meski pekerjaan tersebut cukup menantang, Winata mengaku menikmati rutinitas yang telah dijalaninya selama sekitar satu tahun terakhir. Menurutnya, suasana kerja yang tidak terlalu menekan menjadi salah satu alasan ia bertahan di bidang pengolahan limbah ikan.
Dari pekerjaannya itu, Winata memperoleh penghasilan sekitar Rp100.000 hingga Rp150.000 per hari. Pendapatan tersebut setara dengan rata-rata Rp3 juta per bulan dan menjadi sumber nafkah utama bagi keluarganya.
Namun, di balik penghasilan yang ia syukuri, terdapat persoalan yang masih menjadi harapannya hingga kini. Winata mengaku belum memiliki perlindungan kesehatan maupun jaminan sosial sebagai pekerja harian.
"Sukanya ya kerjanya enjoy, tidak terlalu diforsir. Tapi dukanya, kita tidak ada BPJS Kesehatan. Itu saja sih harapannya," ucapnya.
Selain persoalan jaminan sosial pekerja, cuaca menjadi tantangan terbesar dalam usaha pengolahan limbah ikan tersebut. Ketika hujan turun, proses penjemuran terhenti sehingga berpotensi menurunkan kualitas bahan baku yang akan dijual ke pabrik.
Karena itu, Winata berharap suatu saat tersedia fasilitas pendukung seperti mesin oven pengering. Menurutnya, teknologi tersebut dapat membantu meningkatkan produktivitas dan mengurangi ketergantungan pada kondisi cuaca.
Di tengah berbagai keterbatasan, Winata tetap menunjukkan sikap optimistis terhadap pekerjaannya. Ia juga mengapresiasi atasannya, Kohir, yang dinilainya telah membuka lapangan kerja bagi warga sekitar dan membantu mengurangi angka pengangguran.
"Sebenarnya kalau saya pribadi, apa sih yang bisa kita berikan untuk negara? Jangan cuma minta terus sama negara. Contohnya Pak Kohir ini, beliau sudah menyumbang lapangan pekerjaan dan mengurangi pengangguran, itu sudah luar biasa," kata Winata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....