Indonesia Re Dorong Penguatan Literasi Asuransi Bangun Ketahanan Financial

  • 29 Jul 2026 19:28 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, perkembangan teknologi yang semakin pesat, serta perubahan perilaku masyarakat, industri perasuransian Indonesia dituntut untuk terus bertransformasi. Selain menjaga ketahanan bisnis dan kualitas tata kelola, industri juga dihadapkan pada tantangan untuk memperluas inklusi asuransi sekaligus meningkatkan literasi masyarakat terkait asuransi.

Menanggapi hal tersebut, Indonesia Re menyelenggarakan webinar bertajuk "Mid-Year Insurance Outlook 2026: Market Dynamics, Consumer Expansion, and Regulatory Direction" yang menjadi ruang diskusi regulator, pelaku industri, akademisi, dan para pakar untuk menemukan best-practices bagi penguatan literasi asuransi masyarakat.

Direktur Teknologi Informasi dan Pengembangan Indonesia Re, Beatrix Santi Anugrah, menyampaikan bahwa memasuki paruh kedua tahun 2026, industri perasuransian menghadapi momentum penting untuk memperkuat daya saing melalui inovasi, peningkatan kualitas layanan, serta penguatan kepercayaan masyarakat.

"Ketidakpastian ekonomi global, perkembangan teknologi, serta perubahan perilaku konsumen mendorong industri asuransi dan reasuransi untuk terus bertransformasi. Selain menjaga ketahanan bisnis, industri juga perlu menghadirkan inovasi, meningkatkan kualitas layanan, dan memperkuat kepercayaan masyarakat agar mampu tumbuh secara berkelanjutan," ujar Beatrix dalam keterangan resminya, Rabu, 29 Juli 2026.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Mei 2026, total premi industri perasuransian mencapai Rp127,96 triliun, yang terdiri atas Rp76,78 triliun premi asuransi jiwa dan Rp51,18 triliun premi asuransi umum. Namun demikian, tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih relatif rendah (2,84%) dibandingkan sejumlah negara di kawasan ASEAN, seperti Singapura yang berada di posisi teratas dengan angka penetrasi asuransi sebesar 12,5%, [CP1] Thailand 4,60%, dan Malaysia 3,80%. Ini menunjukkan potensi pertumbuhan industri asuransi di Indonesia masih sangat besar.

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Retno Woelandari, menjelaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya potensi pengembangan industri, sekaligus perlunya transformasi yang lebih terarah.

"Apabila kita melihat kontribusi sektor ini terhadap PDB maupun target yang telah ditetapkan dalam RPJMN, masih terdapat kesenjangan yang cukup besar. Artinya, industri masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat luas dan memerlukan upaya transformasi yang lebih cepat," kata Retno.

Lebih lanjut, Retno menekankan bahwa peningkatan penetrasi asuransi tidak hanya bergantung pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga memerlukan penguatan ekosistem industri melalui tata kelola yang baik, penguatan regulasi, serta peningkatan literasi dan inklusi keuangan. Sejalan dengan dinamika industri yang terus berkembang, regulator juga terus mendorong penguatan ketahanan sektor perasuransian melalui penyempurnaan berbagai kebijakan, termasuk penguatan permodalan, implementasi PSAK 117, pengelolaan aset dan liabilitas, serta penyempurnaan kerangka Risk-Based Capital (RBC) yang lebih risk-sensitive dan forward-looking.

Senada dengan Retno, dari perspektif perilaku masyarakat, Ekonom Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bahtiar Rifai, menjelaskan bahwa tantangan peningkatan literasi asuransi tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, tetapi juga oleh perubahan struktur demografi Indonesia yang semakin didominasi oleh generasi muda.

"Sekitar 70 persen penduduk Indonesia saat ini didominasi oleh Generasi Z, Milenial, dan Generasi Alpha. Perubahan struktur demografi ini turut mengubah karakteristik pasar, cara masyarakat memperoleh informasi, mengambil keputusan, hingga memandang masa depan. Oleh karena itu, strategi peningkatan literasi keuangan dan asuransi juga perlu beradaptasi dengan perubahan tersebut," ucap Bahtiar.

Menurut Bahtiar, salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi masyarakat adalah rendahnya kesiapan dalam menghadapi risiko keuangan jangka panjang. Selama usia produktif, pendapatan umumnya mengalami peningkatan, namun ketika memasuki masa pensiun, pendapatan cenderung menurun, sementara biaya hidup, terutama biaya kesehatan yang justru terus meningkat.

"Banyak orang mempersiapkan kariernya, tetapi belum mempersiapkan masa pensiunnya. Padahal ketika pendapatan mulai turun, justru biaya kesehatan meningkat. Tanpa perencanaan keuangan dan perlindungan asuransi, risiko finansial akan semakin besar," ujanya.

Bahtiar menambahkan bahwa keberhasilan peningkatan literasi keuangan tidak hanya diukur dari bertambahnya pengetahuan masyarakat, tetapi juga dari perubahan perilaku dalam mengelola keuangan, mulai dari membangun kebiasaan menabung, berinvestasi, hingga menjadikan asuransi sebagai bagian dari strategi perlindungan dan ketahanan finansial keluarga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....