PayLater dan Belanja Online Jadi Tantangan Literasi Keuangan Keluarga

  • 02 Jun 2026 09:04 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Kemudahan transaksi digital melalui belanja online dan layanan PayLater menghadirkan tantangan baru bagi upaya peningkatan literasi keuangan keluarga. Masyarakat dituntut semakin bijak dalam mengelola pengeluaran agar tidak terjebak perilaku konsumtif yang dapat mengganggu kondisi keuangan rumah tangga.

Pengurus Divisi Literasi dan Edukasi Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kabupaten Aceh Besar, Khairatun Hisan, mengatakan perkembangan teknologi keuangan memang memberikan banyak kemudahan. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga berpotensi mendorong masyarakat melakukan pengeluaran secara impulsif.

“Kalau dulu mungkin orang berpikir tidak keluar rumah berarti tidak mengeluarkan uang. Sekarang tanpa keluar rumah pun uang bisa tetap keluar karena belanja online hanya dengan beberapa kali klik,” ujarnya dalam dialog saat dilalog bersama Pro 1 RRI Jakarta, Senin 1 Juni 2026.

Menurut Khairatun, tantangan terbesar dalam penggunaan layanan keuangan digital bukan pada teknologinya, melainkan pada kemampuan pengguna dalam mengendalikan diri. Ia menekankan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan sebelum melakukan transaksi.

“Yang paling penting adalah kontrol diri. Kita harus bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Itu yang menjadi rem agar tidak mudah tergoda melakukan pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan,” katanya.

Ia juga menyoroti maraknya penggunaan fitur PayLater yang kini tersedia di berbagai platform e-commerce. Dalam perspektif ekonomi syariah, masyarakat perlu memahami konsekuensi biaya tambahan yang dapat muncul dari penggunaan fasilitas tersebut.

“Kalau ada tambahan biaya atau bunga dalam skema pembayaran, tentu masyarakat harus memahami risiko dan konsekuensinya sebelum menggunakan layanan tersebut,” ujarnya.

Selain itu, Khairatun mengingatkan masyarakat untuk hanya menggunakan aplikasi keuangan yang resmi dan memiliki izin dari otoritas terkait. Langkah tersebut penting untuk menghindari risiko penipuan maupun praktik pinjaman online ilegal yang masih marak ditemukan.

Ia juga mendorong keluarga untuk meningkatkan keamanan transaksi digital melalui penggunaan PIN, autentikasi ganda, serta menjaga kerahasiaan data pribadi. Menurutnya, edukasi mengenai penggunaan uang elektronik dan transaksi online juga perlu diberikan kepada anak-anak sejak dini.

“Anak-anak perlu dikenalkan tentang transaksi digital, tetapi tetap harus ada pengawasan. Jangan memberikan akses PIN ATM atau mobile banking kepada anak karena mereka belum memiliki kemampuan penuh untuk mengelola risiko keuangan,” katanya.

Khairatun menegaskan bahwa literasi keuangan keluarga menjadi kunci untuk menghadapi perkembangan layanan digital yang semakin pesat. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dapat memanfaatkan teknologi keuangan secara optimal tanpa terjebak dalam perilaku konsumtif maupun risiko utang yang berlebihan.

“Teknologi keuangan seharusnya menjadi alat yang memudahkan, bukan justru menimbulkan masalah keuangan. Karena itu, literasi keuangan harus terus diperkuat di lingkungan keluarga,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....