Sandiaga Uno Dorong Penciptaan Lapangan Kerja melalui Program Desa Emas
- 16 Sep 2026 17:40 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Founder Yayasan Indonesia Setara (YIS) Sandiaga Salahuddin Uno mendorong penciptaan lapangan kerja melalui Program Desa Emas (Desa Ekonomi Maju dan Sejahtera) yang mengembangkan produk unggulan desa di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, berbasis konsep One Village One Product (OVOP).
Program yang digagas Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek) bersama YIS dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Kuningan itu diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal melalui hilirisasi, sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku usaha desa.
Sandiaga mengatakan Kabupaten Kuningan memiliki potensi sumber daya alam yang beragam, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan hingga kehutanan. Menurutnya, potensi tersebut perlu dioptimalkan karena sebagian komoditas lokal masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah atau olahan sederhana sehingga nilai tambah yang diterima pelaku usaha belum maksimal.
“Teknologi hilirisasi yang didampingi riset harus memberikan solusi praktis dan terintegrasi sehingga hasil riset dapat diimplementasikan langsung oleh kelompok usaha,” kata Sandiaga dalam siaran tertulis, Rabu, 16 September 2026.
Ia menambahkan penerapan teknologi dan inovasi dapat membantu kelompok usaha menjadi lebih mandiri, meningkatkan daya saing produk, sekaligus membuka peluang terciptanya lapangan kerja baru.
Sebagai bagian dari program tersebut, pelatihan hilirisasi aneka produk digelar di UPTD PLUT KUMKM Kuningan pada 10-11 September 2026. Kegiatan itu diselenggarakan bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Direktorat Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, dan UMKM.
“Pelatihan difokuskan untuk memperkuat kemampuan pelaku usaha mengolah bahan baku lokal menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi,” ujarnya.
General Manager Yayasan Inotek Dewi Suryani mengatakan workshop selama dua hari tersebut diikuti 52 peserta dari delapan kelompok usaha. Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diteruskan kepada ratusan anggota kelompok usaha di daerah tersebut.
Dalam pelatihan itu, peserta mempelajari berbagai inovasi pengolahan pangan lokal, di antaranya pemanfaatan limbah biji durian menjadi tepung durian, pembuatan mi berbahan tepung singkong dan bayam, serta produksi food bar Banana with Grains.
Peserta juga mendapat praktik membuat permen jahe, mengolah ubi ungu menjadi Taro Brulee, Taro Cookies, dan Taro Milk, memproduksi gula cair berbahan singkong, hingga menerapkan teknologi retort untuk pengemasan tutut agar masa simpan produk lebih panjang.
“Kami berharap setelah kegiatan ini berakhir akan ada produk yang kemudian diuji, diperbaiki, dihitung kelayakan bisnisnya, dikembangkan kemasannya, diuji pasarnya, dan kemudian benar-benar diproduksi serta dipasarkan,” ujar Dewi.
Sementara itu, Kasubid Sosial Budaya dan Pemerintahan Bappeda Kabupaten Kuningan Jajang Setiadi mengatakan konsep OVOP bertumpu pada tiga karakteristik utama, yakni pengembangan produk lokal yang berpotensi menembus pasar lebih luas, kreativitas masyarakat dalam mengolah produk secara mandiri, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Di sisi lain, periset BRIN Dr. Hari Hariadi menilai pelaku usaha perlu mengembangkan teknologi pengolahan dan pengawetan agar produk tidak selalu dijual dalam kondisi segar yang rentan terhadap fluktuasi harga pasar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....