Batikku Identitasku, Melangkah Bersama Menjaga Warisan

  • 29 Sep 2026 13:53 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta: Berbicara tentang batik tidak cukup hanya mengenai bagaimana kain dibuat. Lebih dari itu, batik merupakan bagian dari identitas, kreativitas, sekaligus warisan budaya yang perlu terus diproduksi, digunakan, dikembangkan dan dilestarikan oleh generasi ke generasi.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam program Suara Budaya Nusantara RRI Yogyakarta dan RRI Jakarta, Selasa, 29 September 2026, dengan tema “Batikku Identitasku, Melangkah Bersama Menjaga Warisan”. Program yang berlangsung pukul 13.00–14.00 WIB ini menghadirkan Hanang Mintarta, CEO Banyu Sabrang Batik, dengan host Semi Prabowo dari RRI Yogyakarta dan Nova Calysta dari RRI Jakarta.

Hanang menjelaskan, keberadaan batik harus dilihat secara utuh. Menurutnya, menjaga batik bukan sekadar mempertahankan proses pembuatannya, tetapi juga memastikan batik terus memiliki kehidupan melalui produksi, penggunaan dan inovasi.

“Berbicara tentang batik tidak cukup hanya tentang membuat batik saja, tapi harus tetap diproduksi dan dilestarikan,” ungkapnya.

Batik Yogyakarta memiliki kekayaan motif dan filosofi yang sangat kuat. Sementara itu, perkembangan batik di Kulon Progo juga menunjukkan karakter tersendiri. Salah satu cirinya adalah keberanian dalam memainkan warna. Pemerintah Kabupaten Kulon Progo juga mencatat bahwa batik daerah tersebut memiliki karakter warna yang mencolok dan berani, selain motif yang banyak mengambil inspirasi dari alam seperti tumbuhan dan hewan.

Keberanian dalam warna tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Perpaduan berbagai warna dapat menghasilkan tampilan yang kuat, tetapi tetap harmonis ketika dipadukan dengan desain motif yang tepat. Kreativitas inilah yang membuat batik terus berkembang tanpa harus kehilangan akar tradisinya.

Dalam proses pembuatannya, batik memiliki teknik yang khas, salah satunya penggunaan malam atau lilin panas sebagai perintang warna. UNESCO menjelaskan bahwa teknik batik menggunakan titik dan garis malam panas untuk menghalangi pewarna masuk ke bagian tertentu dari kain. Proses pewarnaan dapat dilakukan berulang untuk menghasilkan beberapa warna.

Keunikan tersebut membuat batik tulis memiliki karakter yang berbeda-beda. Setiap goresan tangan, susunan motif, pilihan warna dan proses pewarnaannya dapat menghasilkan kain yang memiliki kekhasan tersendiri. Konsep handmade dan limited juga dapat menjadi nilai tambah karena proses pembuatannya membutuhkan keterampilan dan waktu.

UNESCO sendiri menetapkan Indonesian Batik ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2009. UNESCO mencatat bahwa teknik, simbolisme dan budaya yang berkaitan dengan batik telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia serta diwariskan dari generasi ke generasi.

Beragam Motif Batik di Indonesia

Kekayaan batik Indonesia terlihat dari banyaknya motif yang berkembang di berbagai daerah. Beberapa di antaranya adalah:

  • Batik Parang – Yogyakarta dan Surakarta, dengan pola diagonal yang kuat.
  • Batik Kawung – Yogyakarta, memiliki pola geometris menyerupai buah kawung.
  • Batik Truntum – Yogyakarta dan Surakarta, dikenal dengan pola bunga-bunga kecil yang tersusun berulang.
  • Batik Sekar Jagad – Yogyakarta dan Jawa Tengah, menggambarkan keberagaman dan keindahan.
  • Batik Sido Mukti – berkembang di lingkungan budaya Jawa dan sering dikaitkan dengan harapan kemakmuran.
  • Batik Mega Mendung – Cirebon, terkenal dengan motif awan dan karakter warna yang khas.
  • Batik Lasem – Rembang, dikenal dengan pengaruh budaya pesisir dan perpaduan warna yang kuat.
  • Batik Pekalongan – banyak menampilkan motif flora, fauna dan pengaruh budaya pesisir.
  • Batik Gentongan – Madura, dikenal dengan warna-warna yang kuat dan proses pewarnaan khas.
  • Batik Geblek Renteng – Kulon Progo, terinspirasi dari makanan khas daerah tersebut dan menjadi salah satu motif yang identik dengan Kulon Progo.
  • Batik Galaran dan Grinsing – merupakan motif yang juga tercatat sebagai bagian dari perkembangan batik asli Kulon Progo.

Selain motif-motif tersebut, Kulon Progo pada 2025 juga menetapkan Songsongagung Ngambararum dan Binangun Kertaraharja sebagai batik khas Kulon Progo melalui Keputusan Bupati Kulon Progo Nomor 236/A/2025.

Pada akhirnya, melestarikan batik bukan berarti membuat masyarakat hanya menggunakan motif-motif lama. Warisan budaya justru dapat terus hidup ketika generasi baru berani mengenal, menggunakan, mengembangkan dan menciptakan inovasi baru dengan tetap menghargai akar budayanya.

Batik bukan sekadar kain. Di dalam setiap motif terdapat cerita, keterampilan, filosofi dan identitas. Dari tangan para perajin, warisan itu dibuat; dari masyarakat yang menggunakannya, batik terus hidup; dan melalui generasi muda, warisan tersebut diharapkan terus melangkah menuju masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....