Menelusuri Asal-Usul Kota Soe dan Jejak Tiga Kerajaan di Timor tengah Selatan
- 14 Sep 2026 21:19 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Kota Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari keberadaan kerajaan-kerajaan di wilayah Timor. Berjarak sekitar 137 kilometer dari Kota Kupang, Soe dikenal dengan udara yang relatif sejuk serta memiliki perjalanan sejarah dan budaya yang terus diwariskan masyarakat.
Budayawan Timur, Pina Ope Nope, mengatakan terdapat dua versi yang berkembang di masyarakat mengenai asal-usul nama Soe. Salah satu cerita menyebutkan nama Soe berasal dari pertemuan seorang serdadu Belanda dengan perempuan yang sedang menimba air dan terjadi kesalahpahaman bahasa.
“Tapi itu adalah legenda yang berkembang doang. Ini perlu saya luruskan karena saya lihat di media-media sosial sudah berkembang seperti itu,” ujar Pina Ope Nope dalam wawancara program Suara Budaya Nusantara, Rabu (9/9/2026).
| Baca juga: Merawat TALENTA Membangun Bona Pasogit |
Menurut Pina, cerita tersebut perlu ditinjau dari perspektif antropologi dan sejarah agar tidak menjadi satu-satunya rujukan mengenai asal-usul nama Kota Soe. Ia menyebut terdapat versi lain yang mengaitkan nama Soe dengan sebuah wadah air yang digunakan untuk menelaah atau meramal oleh seorang Raja Kecil dari Kerajaan Amanuban.
“Jadi, Soe itu muncul dari satu tempat wadah air dari setor Raja Kecil Raja Bawahan dari Raja Amanuban,” katanya.
Pina menjelaskan, kisah mengenai Soe sebagai sebuah wadah telah menjadi bagian dari tuturan adat masyarakat setempat. Menurutnya, cerita tersebut memiliki nilai budaya dan sejarah yang perlu dikaji lebih lanjut untuk memperoleh gambaran yang lebih kuat mengenai asal-usul nama Soe.
Sejarah Kota Soe juga berkaitan dengan keberadaan tiga kerajaan besar di wilayah TTS, yakni Amanuban, Amanatun, dan Molo. Ketiga kerajaan tersebut pada masa lalu berdiri secara terpisah dengan adat istiadat, kultur sosial, dan sistem pemerintahan masing-masing.
Dalam catatan sejarah yang disampaikan Pina, Belanda mulai menaklukkan wilayah kerajaan-kerajaan tersebut pada awal abad ke-20. Kerajaan Molo ditaklukkan pada 1906, disusul Amanatun pada 1908 dan Amanuban pada 1910.
Setelah ketiga kerajaan berada di bawah kendali Belanda, wilayah tersebut kemudian digabung dalam satu pemerintahan administratif yang dipimpin seorang kontroler. Pusat pemerintahan awalnya berada di Kapan, sebelum kemudian dipindahkan ke Soe.
Perpindahan pusat pemerintahan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Soe, yang sebelumnya merupakan sebuah perkampungan kecil hingga berkembang menjadi kota. Sejarah itu menunjukkan eratnya hubungan perkembangan Kota Soe dengan dinamika kerajaan dan pemerintahan di wilayah TTS.
Pina juga menyoroti penetapan 1 September sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah Kota Soe. Menurutnya, sebuah kota perlu memiliki tanggal yang disepakati bersama sebagai penanda kelahirannya.
Meski demikian, ia menilai penelusuran mengenai asal-usul nama Soe masih perlu dilakukan secara lebih mendalam. Kajian sejarah dan budaya tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih kuat kepada masyarakat sekaligus membantu generasi muda mengenali identitas dan perjalanan Kota Soe dari masa ke masa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....