Religiositas yang Menyatukan Suku Batak
- 25 Agt 2026 13:31 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID.Jakarta - Religiositas menjadi salah satu kekuatan penting yang mampu menyatukan masyarakat Batak di tengah keberagaman marga, subetnis, tradisi, dan latar belakang kehidupan. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal BATAK CENTER, Jerry Sirait, melalui sambungan telepon dalam acara Apresiasi Budaya Batak yang disiarkan Pro 4 RRI Jakarta, Senin (24/8/2026). Dalam perbincangan yang dipandu host Jojo Aditya, Jerry menekankan bahwa kehidupan religius tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Tuhan, tetapi juga menjadi landasan dalam membangun hubungan antarsesama, khususnya dalam menjaga persaudaraan dan kebersamaan masyarakat Batak.
Menurut Jerry Sirait, masyarakat Batak sejak dahulu memiliki nilai-nilai kehidupan yang menempatkan hubungan kekeluargaan, penghormatan kepada orang tua, kepedulian terhadap sesama, serta semangat gotong royong sebagai bagian penting dari kehidupan sosial. Nilai-nilai tersebut semakin kuat ketika dipadukan dengan religiositas yang mengajarkan kasih, pengampunan, kejujuran, dan kepedulian. Perbedaan marga maupun asal-usul tidak seharusnya menjadi sekat yang memisahkan, melainkan menjadi kekayaan budaya yang dapat memperkuat identitas bersama. Dalam konteks tersebut, agama dan budaya dapat berjalan berdampingan sebagai kekuatan moral yang mendorong masyarakat Batak untuk terus menjaga persatuan.
Lebih jauh, Jerry melihat bahwa religiositas juga memiliki peran besar dalam menjaga nilai-nilai budaya Batak agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman. Modernisasi dan perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam pola kehidupan generasi muda. Karena itu, nilai-nilai luhur seperti Dalihan Na Tolu, rasa hormat kepada hula-hula, sikap menghargai dongan tubu, serta tanggung jawab terhadap boru perlu terus diperkenalkan dalam konteks kehidupan masa kini. Bagi Jerry, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi pedoman moral yang dapat terus dihidupkan melalui keluarga, komunitas, pendidikan, kegiatan sosial, dan berbagai ruang kebudayaan.
Dalam kesempatan tersebut, Jerry Sirait juga mengajak masyarakat Batak, khususnya generasi muda, untuk menjadikan religiositas sebagai energi positif dalam membangun persaudaraan. Menurutnya, perbedaan pilihan, profesi, tempat tinggal, bahkan latar belakang sosial tidak boleh menghilangkan rasa sebagai satu rumpun keluarga besar. Semangat persaudaraan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti saling menghormati, membantu mereka yang membutuhkan, menjaga komunikasi antarkeluarga, serta memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal budaya leluhurnya. Dengan demikian, religiositas tidak berhenti pada simbol dan ritual keagamaan, tetapi hadir dalam perilaku sehari-hari yang mencerminkan kasih, toleransi, dan kepedulian.
Melalui dialog di acara Apresiasi Budaya Batak Pro 4 RRI Jakarta tersebut, pesan yang disampaikan Jerry Sirait menjadi pengingat bahwa kekuatan masyarakat Batak tidak hanya terletak pada kekayaan adat dan budayanya, tetapi juga pada nilai-nilai religius yang mampu menjadi perekat persaudaraan. Di tengah kehidupan modern yang semakin dinamis, menjaga religiositas sekaligus melestarikan budaya merupakan bagian dari upaya merawat jati diri dan membangun masa depan yang lebih harmonis. Persatuan masyarakat Batak pada akhirnya bukan berarti menghilangkan keberagaman, melainkan menjadikan keberagaman itu sebagai kekuatan untuk bersama-sama membangun kehidupan yang lebih bermartabat, rukun, dan penuh kasih.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....