Kepemimpinan Perempuan dalam Balutan Seni Tradisi

  • 19 Apr 2026 07:32 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Pertunjukan Tari Ratu Graeni menjadi sorotan dalam acara Majelis Nyala Purnama bertema “Jadilah Pemenang, Bukan Penakluk” yang digelar di Makara Art Center Universitas Indonesia pada Selasa, 7 April 2026. Dalam suasana yang hangat dan penuh makna, sekitar 50 hadirin menyaksikan penampilan penari muda Indonesiana Ayuningtyas, yang akrab disapa Nesia, seorang siswi kelas 8 SMP Negeri 2 Depok.

Tarian yang dibawakan Nesia merupakan karya klasik Sunda yang diciptakan oleh Raden Tjetje Somantri pada tahun 1949. Tari Ratu Graeni mengisahkan sosok pemimpin perempuan dari Kerajaan Medang Kamulan yang tengah mempersiapkan diri menghadapi ancaman invasi dari Prabu Gandawikalpa. Kisah ini menghadirkan potret kepemimpinan perempuan yang tangguh dan penuh tanggung jawab.

Tarian yang dibawakan Nesia merupakan karya klasik Sunda yang diciptakan oleh Raden Tjetje Somantri pada tahun 1949. (Foto : Humas Komoenitas Makara)

Baca Juga : Menemukan Kemenangan Sejati Melalui Kebijaksanaan Diri

Gerakan dalam tarian tersebut memadukan kelembutan khas putri Sunda dengan ketangkasan seorang prajurit. Setiap langkah mencerminkan kebijaksanaan, kewibawaan, serta keterampilan dalam menghadapi konflik. Sosok Ratu Graeni digambarkan sebagai pemimpin yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang dalam pengambilan keputusan.

Beberapa ragam gerak utama seperti Calik Ningkat, Sembahan, Ngolah Keris, dan Cingeus menjadi simbol penting dalam tarian ini. Gerakan-gerakan tersebut merepresentasikan kesiagaan, penghormatan, kecakapan bela diri, hingga semangat menghadapi tantangan. Melalui simbolisasi ini, Tari Ratu Graeni menegaskan bahwa perempuan memiliki ketangguhan, jiwa patriotisme, dan kemandirian yang setara dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Ngatawi Al Zastrouw, Untung Yuwono, Lily Tjahjandari, Turita Indah Setyani, Hendrajit, serta Ali M. Abdillah. Dalam kesempatan tersebut, salah satu pesan yang mengemuka adalah, “Kepemimpinan sejati bukan tentang menaklukkan, melainkan tentang keberanian menjaga nilai dan melindungi yang dipimpin.”

Baca Juga:

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....