Budaya Adi Luhung Seni Musik Khas Purbalingga

  • 24 Agt 2026 14:47 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID.Jakarta: Purbalingga memiliki kekayaan seni tradisional yang menjadi bagian dari identitas dan kehidupan masyarakatnya. Salah satunya adalah Seni Amplang dan Seni Angguk, yang menjadi perhatian dalam acara Apresiasi Budaya Banyumas Pro 4 RRI Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026. Dalam acara yang dipandu Dermawan Ismail bersama Kang Jori Guplak, penggiat seni asli Purbalingga Mirin Purnomo hadir melalui sambungan telepon untuk berbagi cerita tentang upaya menjaga budaya adi luhung di tengah perubahan zaman. Menurut Mirin, seni tradisional bukan hanya hiburan, tetapi juga warisan nilai, identitas, dan karakter masyarakat yang harus terus diperkenalkan kepada generasi penerus.

Mirin Purnomo menjelaskan, Seni Amplang merupakan kesenian tradisional yang memadukan unsur musik, gerak, dan pertunjukan secara berkelompok. Kesenian ini tumbuh sebagai bagian dari kehidupan masyarakat dan menjadi sarana hiburan sekaligus ekspresi budaya. Iringan musik dan gerakan para pemain menghadirkan suasana yang khas, sementara kekompakan dalam pertunjukan mencerminkan semangat gotong royong dan keguyuban masyarakat. Bagi Mirin, keberadaan Seni Amplang perlu terus dijaga karena di dalam kesenian tersebut terdapat jejak kreativitas dan tradisi masyarakat Purbalingga yang tidak ternilai.

Sementara itu, Seni Angguk memiliki ciri khas berupa gerakan para pemain yang dilakukan secara bersama-sama mengikuti irama musik pengiring. Gerakan menganggukkan kepala menjadi salah satu karakter yang memberikan identitas pada kesenian tersebut. Pertunjukan Angguk tidak hanya menghadirkan hiburan rakyat, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan dan interaksi sosial masyarakat. Perpaduan gerak, musik, kostum, serta kekompakan para pemain menjadikan Angguk sebagai salah satu kesenian tradisional yang memiliki daya tarik tersendiri. Menurut Mirin, mempertahankan kesenian seperti Angguk berarti turut menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Semangat pelestarian tersebut terus dilakukan Mirin Purnomo melalui kegiatan seni di sanggar yang berada di Dusun Larangan, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga. Sanggar tersebut menjadi ruang berkumpul, berlatih, dan mengembangkan berbagai aktivitas kesenian sekaligus menjadi tempat untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan masuknya berbagai budaya populer, Mirin melihat adanya peluang untuk memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi dan edukasi. Seni Amplang dan Angguk dapat diperkenalkan melalui berbagai platform digital sehingga generasi muda semakin mengenal kesenian daerahnya sendiri tanpa harus kehilangan nilai dan karakter tradisionalnya.

Melalui perbincangan dalam Apresiasi Budaya Banyumas Pro 4 RRI Jakarta, pesan Mirin Purnomo menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari lingkungan masyarakat paling dekat. Dari Dusun Larangan, Kecamatan Pengadegan, Purbalingga, keberadaan sanggar dan para penggiat seni menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan Seni Amplang dan Angguk. Kesenian tersebut bukan sekadar pertunjukan, melainkan cermin gotong royong, kekompakan, kreativitas, dan kecintaan terhadap warisan leluhur. Karena itu, budaya adi luhung Purbalingga perlu terus diberi ruang untuk tumbuh, dipelajari, dipentaskan, dan diwariskan, sehingga tetap hidup serta mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....