Menjaga Warisan Rasa, Menembus Pasar Dunia lewat Kawa Daun

  • 15 Apr 2026 23:05 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Di tengah berkembangnya industri minuman modern, seorang pelaku usaha asal Padang, Edward Zulichtiar, memilih jalur berbeda dengan mengangkat minuman tradisional Kawa daun sebagai peluang bisnis. Lahir di Jakarta pada 26 Juli dan besar dalam nilai-nilai keluarga sederhana, Edward kini menetap di kawasan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak hanya berwirausaha, tetapi juga aktif sebagai trainer TikTok Shop dan penyelia halal.

Perjalanan Edward menuju dunia usaha tidaklah instan. Selama kurang lebih 16 tahun, ia berkecimpung di dunia asuransi sebelum akhirnya memutuskan beralih pada 2015. Keputusan tersebut membawanya mengikuti berbagai pelatihan, termasuk program di MarkPlus Institute pada 2019. Sejak itu, ia semakin mantap membangun bisnis berbasis potensi lokal yang memiliki nilai budaya tinggi.

Perjalanan Edward menuju dunia usaha tidaklah instan. Selama kurang lebih 16 tahun, ia berkecimpung di dunia asuransi sebelum akhirnya memutuskan beralih pada 2015. (Foto: Edward)

Baca Juga:

Semangat Muda Minang Melestarikan Budaya dan Meraih Prestasi

Usaha yang digelutinya berfokus pada Kawa daun, minuman unik yang berasal dari daun kopi robusta tua. Tidak seperti kopi pada umumnya yang menggunakan biji, Kawa daun justru memanfaatkan daun yang dipetik dari pohon kopi berusia puluhan hingga hampir satu abad. Minuman ini memiliki cita rasa khas, perpaduan antara teh, kopi, dan sentuhan rasa segar yang berbeda. Edward menyebut bahwa usaha ini masih tergolong langka, bahkan hanya ada di beberapa negara di dunia, dengan Sumatera Barat sebagai salah satu pusatnya.

Edward Zulichtiar atau disapa Da Ed memaparkan arti nama usahanya melalui sambungan telp langsung dari Padang Sumatera Barat, di acara Apresiasi Budaya Minangkabau, Minang Bakaba Lamak Di danga, Pro 4 FM Jakarta, Rabu, 15 April 2026 :

"Nama “Bonang Bersaudara” yang menjadi identitas usaha saya diambil dari kedekatan keluarga dengan wilayah sekitar makam Makam Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur. Bagi saya nama tersebut bukan sekadar label, melainkan bagian dari identitas dan cerita yang melekat pada perjalanan usahanya.Saya juga melihat potensi besar Kawa daun untuk menembus pasar global dalam lima tahun ke depan, mengingat keunikan dan nilai historisnya yang telah ada sejak masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1940", ujar Da Ed .

potensi besar Kawa daun untuk menembus pasar global dalam lima tahun ke depan, mengingat keunikan dan nilai historisnya yang telah ada sejak masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1940 (Foto: Edward)

Di balik semangatnya, tersimpan pesan mendalam dari kedua orang tuanya yang telah tiada, yang selalu ia pegang teguh dalam menjalani hidup dan usaha. Ia berharap Kawa daun tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang dan dilestarikan oleh generasi berikutnya, baik di ranah Minang maupun di seluruh Indonesia. “Hidup itu dinikmati, dihayati, dan dihadapi. Apapun lika-liku perjuangan, jangan pernah surut,” ungkap Edward, mengingat petuah yang menjadi sumber kekuatannya hingga hari ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....