Dusun Flobamora Sulap Cerita Tutur NTT Jadi Buku hingga Film
- 29 Jul 2026 06:37 WIB
- Jakarta
RRI.CO.DI, Jakarta - Siapa bilang cerita tua dari mulut ke mulut bakal hilang begitu saja digilas zaman? Di Nusa Tenggara Timur, ada komunitas keren bernama Dusun Flobamora yang tekun mengumpulkan cerita tradisi lisan lalu mengubahnya jadi karya tulis serta film. Berdiri sejak tahun 2011, wadah kreatif ini terus konsisten merawat identitas daerah dari Flores, Sumba, Alor, hingga Timor.
Perwakilan Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Saddam HP, menceritakan pentingnya mengabadikan warisan tutur ini dalam bentuk cetak agar tetap lestari. "Sastra NTT kebanyakan dilisankan dan kami memilih untuk menulis karya-karya lisan itu agar budaya lokal bisa dibaca secara lebih luas di ranah nasional," ujar Saddam dalam siaran Suara Budaya Nusantara Pro4 RRI, Senin (27/7/2026). Langkah nyata ini membuat ragam ritus adat dan nilai lokal terlindungi dengan baik dalam bentuk buku cerita hingga karya populer.
Karya-karya yang mereka dokumentasikan ternyata tidak hanya dilirik masyarakat lokal, tetapi juga sampai menembus perpustakaan internasional. "Naskah-naskah budaya kami diakuisisi oleh pihak Belanda KITLV Leiden dan Library of Congress Amerika Serikat sebagai bagian dari penyelamatan literasi," ungkap Saddam menjelaskan capaian komunitasnya. Hingga kini, komunitas ini sudah menerbitkan sedikitnya 65 judul buku serta 78 edisi Jurnal Sastra Santarang.
Tak berhenti di lembaran kertas, Dusun Flobamora juga ikut beradaptasi dengan tren anak muda lewat pembuatan film dokumenter berbasis riset kebudayaan. Salah satu tradisi unik yang berhasil difilmkan adalah ritus inisiasi Daba serta tradisi penghormatan kematian Tau Leo. Sajian visual ini menjadi sarana edukasi yang sangat efektif dan menarik bagi generasi muda di daerah perkotaan.
Untuk menanamkan kecintaan budaya sejak dini, komunitas ini secara khusus merilis buku cerita anak dengan format dwibahasa, yakni bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Pendekatan dwibahasa ini dibuat agar anak-anak usia sekolah dasar bisa lebih mudah memahami sekaligus mencintai bahasa ibunya. Sinergi antara keluarga dan lembaga pendidikan menjadi kunci penting agar kurikulum lokal ini bisa terus hidup.
Lewat berbagai kelas menulis, penerbitan karya, hingga dokumenter visual, kolaborasi bersama Balai Pelestarian Kebudayaan dan Kementerian Kebudayaan pun semakin memperkuat gerakan ini. Usaha tak kenal lelah selama 15 tahun dari "dunia sunyi" ini membuktikan bahwa tradisi lokal NTT bisa terus relevan. Langkah berkesinambungan ini memastikan warisan leluhur tidak tenggelam, melainkan terus dihidupi oleh generasi masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....