Nikmat Paling Utama Menurut Ali bin Abi Thalib RA

  • 28 Jun 2024 15:08 WIB
  •  Samarinda


KBRN Samarinda : Allah SWT telah memberikan kita begitu banyak nikmat dalam kehidupan di dunia ini, mulai dari bangun tidur sampai kita tidur kembali. Betapa banyak nikmat yang telah kita rasakan, sehingga kita tidak mampu menghitung akan nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Allah SWT berfirman dalam Q.S An-Nahl ayat 18 yang artinya,"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan 6 Nikmat dari Allah yang paling utama yaitu: Islam, Alquran, Nabi Muhammad SAW, sehat wal afiat, tertutupnya aib, dan tidak memerlukan bantuan orang lain (dalam urusan dunia.

Dilansir dari el-azzam.com Setiap muslim pastinya meyakini bahwasanya nikmat dari Allah yang terbesar di dunia ini adalah agama Islam. Seorang muslim akan senantiasa bersyukur kepada Allah yang telah memberinya petunjuk ke dalam Islam dan mengikuti ajaran nabi Muhammad, Allah sendiri telah menyatakan Islam sebagai karunia-Nya yang terbesar yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman Al Quran.surah Al-Ma’idah ayat 3yang artinya “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.”Tidak ada keraguan bahwasanya Al- qur’an adalah nikmat yang agung yang dianugrahkan Allah SWT kepada hamba-Nya.

Allah menurunkan Al- qur’an untuk menjadi pedoman dalam kehidupan, sebagai penerang dalam kebodohan, sebagai penyejuk untuk hati yang gersang, dan sebagai obat mujarab bagi penyakit yang menyerang. Dan barang siapa yang berpegang teguh denganya maka akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat, Sebaliknya barang siapa yang berlepas diri darinya maka akan sengsara di dunia dan di akhirat.

Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT sebagai bentuk rahmat, rasa kasih sayang, karunia, dan nikmat yang diberikan kepada makhluk-Nya di seluruh alam semesta. Rahmatan lil alamin menunjukkan bahwa kehadiran Rasulullah SAW di tengah kehidupan makhluk hidup, mewujudkan rasa kedamaian dan ketentraman bagi alam semesta dan manusia tanpa membedakan agama, suku, dan ras.

Rasulullah SAW menjadi rahmat bagi semesta, termasuk di dalamnya adalah hewan, tumbuhan, dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan apa yang terkandung dalam Al Quran, Surat Al-Anbiya ayat 107, yang artinya:“Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Selanjutnya nikmat sehat wal ‘afiat. Nikmat sehat ini sangat mahal sekali nilainya dan tidak bisa dinilai dengan uang, misalnya saat ini kita diberikan nikmat bernafas oleh Allah ﷻ setiap detik kita bernafas. Maka dari itu sudah seharusnya kita menggunakan nikmat sehat ini untuk terus beribadah kepada Allah, melakukan kebaikan dengan niat karena Allah dan menyiapkan bekal akhirat untuk kembali kepada Allah ﷻ.

Selain nikmat sehat wal ‘afiat, ditutupnya aib kita oleh Allah adalah nikmat besar yang harus kita syukuri.‘Al-insan mahal al-khatha wa al-nisyan’, manusia adalah gudangnya salah dan lupa. Begitu banyak kekeliruan, kesalahan, hal/tindakan yang tercela, baik disengaja maupun tidak disengaja, bersembunyi atau sengaja ditutup-tutupi. Namun, Allah tetap memberi kesempatan bagi kita untuk menutupinya, sehingga orang lain tidak mengetahuinya.

Dalam konteks pribadi, kesadaran ini akan selalu mendorong kita untuk terus beristighfar (memohon ampun), terus introspeksi dan memperbaiki diri. Dan dalam konteks sosial, kesadaran nikmat tertutupnya aib ini mendorong kita memiliki sifat rendahan hati (tidak takabbur).

Islam meminta kita menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah yang Maha Kuasa. Ajaran-ajaran di dalam agama islam mengharuskan kita bersandar hanya kepada Sang Pemilik Kekuasaaan dengan cara menyerahkan segala sesuatu kepada Allah melalui amalan yang Allah ridhoi.

Ketika menemui masalah dalam hidup, bukan berarti sama sekali kita tidak boleh meminta bantuan kepada manusia. Hanya saja semaksimal mungkin hendaknya seorang makhluk harus mengurangi ketergantungannya kepada orang lain. Karena manusia sejatinya tidak memiliki apa-apa, Allah lah yang berkuasa atas segala sesuatu.



Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....