Perang AS-Iran, Pengamat: Perang Teluk Ketiga Sudah di Depan Mata

KBRN, Jakarta : Serangan rudal Iran kedua instalasi militer Amerika Serikat (AS) di Irak akan semakin memanaskan tensi ketegangan antara AS dan Iran. Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi memperkirakan setelah serangan Iran itu akan ada  serangan balasan dari Amerika Serikat ke Iran. Apalagi  AS telah memberikan peringatan  akan membalas lebih besar.

"Jika ini yang terjadi maka perang semakin tidak bisa dihindari. Perang teluk ketiga sudah di depan mata,"  kata Yon kepada rri.co.id, Rabu (8/1/2020).  

Yon memperkirakan sejumlah negara akan bergabung bersama Amerika Serikat untuk menyerang Iran.

"Yang jelas Israel, ditambah koalisi militer Arab Saudi. Uni Eropa cenderung netral sementara Rusia dan China lebih dekat ke Iran," ungkapnya.

Sedangkan Indonesia, menurut Yon harus berhati-hati merespon serangan Iran ke dua instalasi militer AS di Irak.  Hal itu lantaran Indonesia sedang bermasalah dengan Cina dapam kasus Natuna.  Indonesia harus mendorong penyelesaian secara damai dalam peristiwa ini.

"Penyelesaian damai hendaknya bisa dikedepankan," ujarnya.

Di sisi lain, Yon mengingatkan pemerintah Indonesia untuk mewaspadai dampak  serangan rudal Iran ke dua instalasi militer Amerika Serikat (AS) di Irak.

"Serangan itu bisa dipastikan akan mempengaruhi harga minyak apalagi jika sampai mengganggu jalur distribusi minyak di Timur Tengah,"

 Serangan Iran itu membuat harga minyak naik. Diketahui, West Texas Intermediate (WTI) melejit hingga 4% atau US$ 2,51 ke US$ 65,21. Kenaikan di pagi waktu Jakarta ini merupakan yang tertinggi sejak April 2019 lalu.

Serangan ini juga sukses membuat bursa berjangka AS terjerembab. Dow Jones melemah 358 poin, sedangkan Indeks S&P 500 dan nasdaq turun 1,4%.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00