Kota Malang Tekan Stunting dengan Kolaborasi Intensif

  • 30 Okt 2024 15:06 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang : Pemerintah Kota (Pemkot) Malang terus berupaya menurunkan angka stunting dengan melibatkan berbagai pihak dan strategi kolaboratif. Hasilnya menunjukkan penurunan signifikan.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia, angka stunting di Kota Malang turun dari 25,7% pada 2021 menjadi 17,3% di 2023. Data penimbangan bulan September 2024 pun mencatat penurunan dari 9,4% pada 2021 menjadi 8,1% tahun ini.

Sekretaris Daerah Kota Malang, Erik Setyo Santoso, menegaskan bahwa meski telah menunjukkan kemajuan, kasus stunting yang tersisa masih memerlukan perhatian intensif.

“Untuk audit semester II 2024, teridentifikasi 12 kasus di enam kelurahan: Pandanwangi, Bumiayu, Bandungrejosari, Dinoyo, Arjowinangun, dan Mulyorejo. Kasus ini membutuhkan penanganan lebih lanjut,” ujarnya dalam Diseminasi Audit Kasus Stunting di Balai Kota Malang, Rabu (30/10/2024).

Erik yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Malang menyebutkan, selain gizi, beberapa faktor lain seperti paparan asap rokok (39,8%), rendahnya kadar hemoglobin ibu hamil (19,3%), hingga sanitasi buruk (1,5%) menjadi pemicu utama stunting.

"Untuk mengatasi ini, perlu kolaborasi semua pihak, termasuk masyarakat," tegasnya.

Pemkot Malang mengerahkan berbagai langkah strategis, seperti bantuan pangan dari Dispangtan, pengajuan bantuan bahan pangan berprotein tinggi melalui Baznas, hingga dukungan kesehatan dan pendidikan dari Dinkes dan Disdikbud.

Dinas lain turut mendukung perbaikan akses sanitasi dan pengurusan data kependudukan. Sementara itu, lembaga mitra seperti IDAI, POGI, dan KUA wilayah juga berperan dalam pendampingan medis, psikologis, dan edukasi keluarga.

Dengan upaya kolektif ini, Pemkot Malang berharap kasus stunting dapat terus ditekan demi terciptanya generasi sehat dan produktif. (ari/yn)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....