Erupsi Anak Krakatau: Delapan Bandara Ditutup, Beberapa Sekolah Mulai Terapkan PJJ

  • 07 Sep 2026 00:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat malam 4 September 2026, membawa dampak luas.
  • Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap penerbangan terus meluas sepanjang Minggu 6 September 2026.
  • Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai diterapkan di sejumlah sekolah terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

ERUPSI Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat malam 4 September 2026, membawa dampak luas. Dentuman keras, lava pijar, dan abu vulkanik menjadi rangkaian aktivitas gunung berstatus Level III atau Siaga.

Sebaran abu vulkanik yang dilontarkan kemudian bergerak semakin jauh mengikuti arah angin pada berbagai ketinggian. Material tersebut terpantau mencapai Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, Sumatra Selatan, hingga Sumatra Barat.

Aktivitas tersebut turut membangkitkan kembali ingatan masyarakat terhadap tsunami Selat Sunda pada Desember 2018. Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan kondisi Anak Krakatau saat ini belum menunjukkan potensi keruntuhan pemicu tsunami.

Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati mengatakan tubuh gunung yang terbentuk kembali masih relatif kecil. Kondisi tersebut diperoleh berdasarkan evaluasi aktivitas Anak Krakatau setelah erupsi dan longsoran besar 2018.

“Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Kondisinya tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” ujar Rita saat konferensi pers, Sabtu 5 September 2026.

Meski potensi tsunami dinyatakan tidak ada, masyarakat tetap diminta mematuhi rekomendasi keselamatan selama aktivitas erupsi berlangsung. Status Siaga, kata Rita, masih dipertahankan setelah sebelumnya dinaikkan dari Level II Waspada sejak 2 Juli 2026.

"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Dalam kasus ini tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," ujarnya.

Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan dampak erupsi tidak berhenti pada kawasan gunung semata. Aktivitasnya menyentuh permukiman, perairan, kawasan wisata, hingga wilayah yang berada ratusan kilometer dari Anak Krakatau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....