Membidik Peluang Ekonomi Baru lewat Forum Ekonomi Timur
- 05 Sep 2026 12:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Presiden Prabowo Subianto menjadi tamu kehormatan dalam Forum Ekonomi Timur atau Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 Rusia
- Indonesia-Rusia berkomitmen meningkatkan kerja sama disektor pertanian, antariksa hingga energi nuklir
- Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan pembuatan kapal ikan canggih
- PT Pupuk Indonesia akan membangun pabrik pupuk di Vladivostok, Rusia
Presiden RI Prabowo Subianto menginginkan agar perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia atau Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia-EAEU FTA), segera diberlakukan. Perjanjian dagang tersebut ditanda tangani oleh Indonesia bersama lima negara anggota yakni Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, dan Rusia—serta Komisi Ekonomi Eurasia.
Perjanjian dagang Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia ditanda tangani di St. Petersburg, Rusia pada 21 Desember 2025. Presiden Prabowo meminta negara-negara Uni Ekonomi Eurasia menuntaskan prosedur internal masing-masing sehingga dapat diberlakukan secepatnya.
"Indonesia ingin perjanjian ini segera berlaku dan digunakan, segera setelah pertukaran dokumen ratifikasi memungkinkan. Saya menyerukan kepada seluruh negara anggota Uni Ekonomi Eurasia untuk menyelesaikan prosedur internal masing-masing sehingga kita dapat memanfaatkan perjanjian ini sesegera mungkin," kata Presiden Prabowo Subianto.
Perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia menghapus atau mengurangi bea masuk atas 11.882 pos tarif, atau lebih dari 90 persen dari seluruh barang yang diperdagangkan. Presiden Prabowo ingin penghapusan tarif segera berlaku sehingga transaksi bisnis dapat dilakukan secepatnya.
"Niat saya adalah ketika jadwal tarif mulai berlaku, barang, jalur perdagangan, dan kontrak harus sudah tersedia. Forum ini harus menjadi pasar bagi perjanjian tersebut," ujarnya.
Kepala Negara menekankan pentingnya kerja sama ditengah situasi global yang semakin penuh dengan tantangan. Menurut Presiden Prabowo, perdagangan kerap dijadikan senjata dansaling curiga.
Oleh sebab itu, kerja sama dibidang pangan, energi, teknologi dan perdagangan adalah kunci untuk menghadapi tantangan. Selain itu, menurut Presiden Prabowo, ketahanan ekonomi global membutuhkan sistem keuangan yang mampu beroperasi secara berdampingan dan tidak boleh bergantung pada satu sistem tertentu.
“Saat ini, perdagangan kerap dijadikan senjata, rantai pasok dibentuk ulang oleh rasa saling curiga, dan sektor keuangan terkotak-kotak secara geografis. Justru karena dunia sedang terfragmentasi, “ katanya.
“Hal ini bukan tentang mengganti satu sistem dengan sistem lainnya, melainkan tentang memastikan adanya sistem keuangan global lain yang dapat beroperasi berdampingan. Berdampingan dengan sistem yang sudah ada demi menjaga keberlangsungan, stabilitas, dan kepercayaan dalam perdagangan internasional,” kata Presiden.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....