Fenomena LGBT di Kota Bekasi Mengkhawatirkan, Solusi Nyata Diperlukan

  • 14 Jul 2026 09:41 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kelompok LGBT di Kota Bekasi mengklaim jumlah anggota mencapai 6.000 individu dan telah berani menunjukkan keberadaannya secara terang-terangan kepada MUI.
  • Pemkot Bekasi merespons dengan menggencarkan edukasi melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) dan menginstruksikan Satpol PP untuk memperketat pengawasan apartemen.
  • Pemkot Bekasi dan DPRD Kota Bekasi sedang menyiapkan regulasi berupa Peraturan Daerah tentang Penanggulangan Penyimpangan Seksual yang mencakup edukasi, pembinaan, dan rehabilitasi.
  • Anggota DPRD Chairun Nisa menunjukkan korelasi antara kasus LGBT dengan meningkatnya kasus HIV dan AIDS di Kota Bekasi, dan menekankan peran keluarga dan pendidikan agama sebagai pencegahan.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Bekasi, Chairun Nisa mengatakan, kasus LGBT di Kota Bekasi harus ditanggapi secara serius. Sebab berkorelasi dengan meningkatnya kasus HIV dan AIDS di Kota Bekasi.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Serta memperkuat peran keluarga dalam mencegah penyebaran perilaku yang dinilai menyimpang.

"Ini bukan persoalan yang bisa dianggap sepele, kita harus bersama-sama meningkatkan kewaspadaan. Karena dampaknya bukan hanya terhadap individu, tetapi juga keluarga dan masyarakat," katanya, baru-baru ini.

Anggota DPRD Kota Bekasi, Chairun Nisa (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Menurutnya, keluarga merupakan benteng pertama. Terutama dalam membangun karakter, moral, dan kepribadian anak.

Ia menilai, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, disertai pengawasan yang konsisten, menjadi faktor penting. Yaki untuk mencegah masuknya pengaruh negatif yang dapat mengubah pola pikir maupun perilaku generasi muda.

"Pondasi keluarga harus benar-benar kuat, orang tua harus hadir sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya. Memberikan kasih sayang, perhatian, sekaligus pemahaman mengenai nilai-nilai kehidupan yang benar," katanya.

Ia juga menyebut, pendidikan agama memiliki peran strategis dalam membentuk keimanan dan akhlak masyarakat. Sehingga ia mendorong agar kegiatan keagamaan, seperti kajian rutin dan pembinaan spiritual, terus diperkuat.

"Agama harus menjadi ujung tombak dalam membangun moral masyarakat. Kajian rutin, pembinaan keagamaan, dan pendidikan akhlak perlu diperbanyak agar keimanan semakin kuat," katanya.

Perempuan yang akrab disapa Nisa tersebut juga memberikan dukungan terhadap kebijakan pemerintah pusat. Dimana pemerintah pusat memandang LGBT sebagai ancaman yang perlu mendapat perhatian dalam perspektif ketahanan sosial dan nasional.

"Saya mendukung kebijakan pemerintah pusat yang memberikan perhatian serius terhadap persoalan LGBT. Negara harus hadir untuk melindungi masyarakat melalui langkah-langkah yang mengedepankan pencegahan, pembinaan, serta perlindungan terhadap generasi muda," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....