Pemerintah Perkuat Antisipasi El Nino 2026

  • 04 Jul 2026 22:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah memperkuat mitigasi menghadapi potensi El Nino dan kemarau 2026
  • Antisipasi dilakukan untuk menjaga produksi pangan dan stabilitas inflasi daerah
  • BMKG, BNPB, Kementerian PU, dan Kementan menyiapkan langkah lintas sektor
  • Strategi mencakup modifikasi cuaca, penguatan infrastruktur air, hingga pompanisasi
  • Kepala daerah diminta memperkuat kesiapsiagaan sesuai kondisi wilayah masing-masing

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, ancaman kekeringan dan kebakaran hutan menjadi perhatian pemerintah. Pengalaman El Nino sebelumnya menjadi dasar memperkuat kesiapsiagaan nasional.

"Periode kejadian karhutla biasanya terjadi mulai Juni sampai November. Sedangkan kekeringan periodenya lebih panjang mulai Mei hingga Desember," kata Suharyanto.

BNPB mencatat, El Nino kuat tahun 2015 menyebabkan luas lahan terbakar mencapai 2,61 juta hektare. Sementara El Nino 2019 berdampak pada kebakaran sekitar 1,64 juta hektare.

Pada El Nino moderat tahun 2023, luas lahan terbakar mencapai sekitar 1,16 juta hektare. Pemerintah berharap pengalaman tersebut tidak kembali terjadi pada periode berikutnya.

Suharyanto mengatakan, BNPB telah menyiapkan berbagai upaya mitigasi menghadapi kemarau panjang. Mulai operasi modifikasi cuaca hingga dukungan peralatan di daerah.

"Optimalisasi OMC dilakukan melalui pengisian embung, danau, waduk, dan tampungan air lainnya. Ini menjadi bagian mitigasi sebelum dampak kekeringan terjadi," ucapnya.

BNPB juga membangun sumur bor di sejumlah daerah rawan kekeringan. Tercatat 109 sumur bor telah dibangun pada tujuh provinsi.

Sumur bor tersebut tersebar di wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, NTT, dan NTB. Kapasitas air bersih yang disediakan mencapai sekitar tiga juta liter per hari.

Untuk penanganan karhutla, BNPB menyiapkan dukungan operasi udara di enam provinsi prioritas. Wilayah tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Sebanyak 12 helikopter patroli dan 18 helikopter water bombing disiapkan mendukung operasi. Pemerintah juga memperkuat operasi modifikasi cuaca pada daerah rawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....