Uji Nyali: Batas Tipis Hiburan Misteri dan Realitas Penonton

  • 12 Jun 2026 14:51 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Program uji nyali yang diumumkan komunitas horor Jepang, Annya Obake, menuai beragam tanggapan dari kalangan warganet Indonesia.
  • Sejumlah warganet mempertanyakan kredibilitas penyelenggara serta mekanisme pelaksanaan kegiatan yang disebut memiliki risiko tertentu.
  • Kontroversi Annya Obake akhirnya berkembang melampaui isu mistis karena menyentuh aspek kepercayaan publik terhadap informasi digital.

Mantan Presenter Harry Pantja mengungkap gambaran proses produksi program uji nyali yang pernah berlangsung di Lawang Sewu. Menurutnya, pelaksanaan produksi televisi dilakukan melalui tahapan berbeda untuk memenuhi kebutuhan teknis serta kebutuhan tayangan.

Ia menjelaskan pengambilan gambar, penutup, ilustrasi, dan testimoni peserta biasanya dilakukan dalam satu kesempatan produksi. Sementara itu, proses penelusuran lokasi oleh peserta dilaksanakan pada waktu berbeda sesuai kebutuhan pengambilan gambar.

Pendekatan tersebut dilakukan agar tim produksi memiliki keleluasaan mengatur aspek teknis dan kualitas visual tayangan. Selain mempertimbangkan alur program, tim juga menyesuaikan proses produksi dengan kondisi lokasi selama pelaksanaan kegiatan.

"Pengambilan gambar pendukung biasanya dimulai sejak waktu magrib agar suasana lokasi sesuai kebutuhan tayangan televisi. Setelah tengah malam, peserta mulai melakukan penelusuran dan proses tersebut berlangsung hingga menjelang waktu subuh tiba," katanya dalam dialog siniar Obrolan Santai via YouTube, Selasa 26 Maret 2024 lalu.

Menurutnya, pemilihan waktu malam hingga dini hari bukan tanpa alasan dalam proses produksi program tersebut. Suasana lingkungan yang lebih tenang dinilai membantu membangun atmosfer yang sesuai dengan konsep tayangan horor.

Presenter Harry Pantja dalam siniar Obrolan Santai via kanal YouTube, Selasa 26 Maret 2024 lalu (Foto: YouTube/Obrolan Santai)

Ia menegaskan ekspresi ketakutan yang terlihat selama program berlangsung bukan hasil arahan dari tim produksi. Menurutnya, reaksi tersebut muncul secara alami ketika peserta menjalani penelusuran di lokasi yang telah ditentukan.

Dalam pelaksanaannya, tim produksi berupaya menangkap berbagai momen spontan yang terjadi selama proses penelusuran berlangsung. Pendekatan tersebut dilakukan agar pengalaman peserta dapat tergambar lebih autentik dan mudah dipahami oleh penonton.

"Reaksi peserta yang terlihat selama penelusuran merupakan respons alami terhadap situasi yang mereka hadapi langsung. Tugas tim produksi adalah merekam momen tersebut agar pengalaman peserta dapat tersampaikan kepada penonton secara utuh," ucapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa tidak seluruh hasil perekaman dapat ditampilkan dalam tayangan yang disiarkan televisi. Keterbatasan durasi membuat tim produksi harus melakukan penyuntingan untuk memilih materi yang paling relevan ditayangkan.

Proses penyuntingan dilakukan dengan mempertimbangkan alur cerita serta kebutuhan program yang telah ditentukan sebelumnya. Langkah tersebut bertujuan menjaga kualitas tayangan tanpa menghilangkan konteks utama dari pengalaman peserta selama penelusuran.

Presenter Harry Pantja bersama salah satu peserta uji nyali pada tahun 2005 (Foto: YouTube/Dunia Lain)

Terkait peserta, ia mengungkapkan tim produksi selalu menyiapkan peserta cadangan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Kebijakan tersebut diterapkan apabila peserta utama memutuskan menghentikan tantangan sebelum seluruh rangkaian kegiatan selesai.

Menurutnya, keberadaan peserta cadangan menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran keseluruhan proses produksi program. Dengan sistem tersebut, jadwal syuting tetap berjalan sesuai rencana meskipun terjadi perubahan situasi di lapangan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....