Konflik AS-Iran: Ambang Kegagalan Diplomasi dan Bayang-Bayang Perluasan Perang

  • 22 Mei 2026 20:09 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi sangat rapuh, sementara penolakan Washington terhadap proposal damai Teheran meningkatkan risiko pecahnya kembali perang regional di Timur Tengah.
  • Iran menuntut penghentian serangan, pencabutan sanksi, dan pembukaan kembali Selat Hormuz, sedangkan Amerika Serikat mendesak pembatasan program nuklir Iran serta pengawasan internasional yang lebih ketat.
  • ASEAN, Rusia, Tiongkok, dan sejumlah negara lain menyerukan penghentian konflik karena perang AS-Iran telah mengganggu stabilitas Timur Tengah, memicu gejolak harga energi dunia, dan mengancam ekonomi global.

Dampak konflik ini juga terasa di tingkat global yang harga energi dunia sangat sensitif terhadap perkembangan di kawasan Teluk, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur vital ekspor minyak dunia. Ketidakpastian situasi keamanan di kawasan tersebut memicu volatilitas pasar energi internasional.

Negara-negara besar seperti Tiongkok, Rusia, dan anggota Uni Eropa terus menyerukan de-eskalasi dan penyelesaian diplomatik. Hal tersebut mengingat risiko gangguan terhadap stabilitas ekonomi global.

Selain itu, kelompok negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN menyatakan keprihatinan serius terhadap situasi di Timur Tengah di tengah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Pernyataan tersebut disampaikan para pemimpin ASEAN dalam KTT ASEAN ke-48 di Cebu, dilansir dari Anadolu, Sabtu 9 Mei 2026.

ASEAN mendesak semua pihak menjaga pelaksanaan gencatan senjata dengan menahan diri dan menghentikan seluruh permusuhan. ASEAN juga meminta semua pihak menghindari tindakan yang dapat memperburuk situasi.

Para pemimpin ASEAN menegaskan pentingnya hukum internasional serta menyerukan dialog dan diplomasi yang tulus untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah. ASEAN juga menekankan penyelesaian sengketa harus dilakukan melalui cara damai dengan tetap menghormati kedaulatan dan integritas wilayah semua negara.

Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin juga mendesak agar perang di Iran segera dihentikan. Seruan tersebut disampaikan kedua pemimpin dalam pertemuan di Beijing pada Rabu, 20 Mei 2026, dilansir dari ABC News.

Xi dan Putin merilis pernyataan bersama yang menegaskan penghentian konflik di Iran menjadi hal yang sangat mendesak. Keduanya juga mengecam serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Rusia dan Tiongkok menilai serangan tersebut melanggar hukum internasional dan norma dasar hubungan internasional. Mereka juga menyebut tindakan itu telah merusak stabilitas kawasan Timur Tengah.

Kedua negara menilai langkah diplomatik diperlukan untuk mencegah konflik meluas ke kawasan lain. Rusia dan Tiongkok juga meminta komunitas internasional bersikap objektif dan membantu meredakan ketegangan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....