Konflik AS-Iran: Ambang Kegagalan Diplomasi dan Bayang-Bayang Perluasan Perang

  • 22 Mei 2026 20:09 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi sangat rapuh, sementara penolakan Washington terhadap proposal damai Teheran meningkatkan risiko pecahnya kembali perang regional di Timur Tengah.
  • Iran menuntut penghentian serangan, pencabutan sanksi, dan pembukaan kembali Selat Hormuz, sedangkan Amerika Serikat mendesak pembatasan program nuklir Iran serta pengawasan internasional yang lebih ketat.
  • ASEAN, Rusia, Tiongkok, dan sejumlah negara lain menyerukan penghentian konflik karena perang AS-Iran telah mengganggu stabilitas Timur Tengah, memicu gejolak harga energi dunia, dan mengancam ekonomi global.

Dalam upaya mencari jalan keluar, Amerika Serikat telah mengajukan proposal damai berisi 14 poin. Poin-poin tersebut mencakup masa negosiasi selama 30 hari untuk menyusun kesepakatan rinci.

Mengutip dari The Independent, Iran menekankan dalam proposal balasan bahwa penghentian perang harus dilakukan di semua front, termasuk di Lebanon. Iran juga meminta penghentian blokade terhadap pelabuhan-pelabuhannya yang dinilai menyebabkan kerugian ekonomi besar.

Selain itu, Teheran menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang serta pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini membebani negara tersebut. Di sisi lain, program nuklir Iran tetap menjadi isu paling sensitif dalam negosiasi.

Sebelum perang pecah, Iran sempat menyatakan kesediaan membatasi persediaan uranium yang diperkaya. Namun proposal Amerika Serikat meminta penghentian sementara pengayaan uranium, inspeksi mendadak terhadap fasilitas nuklir Iran, serta pemindahan seluruh uranium yang diperkaya ke luar negeri.

Proposal Iran tersebut dikirim melalui mediator Pakistan dan berisi tuntutan penghentian blokade di Selat Hormuz, pencabutan sanksi Amerika Serikat, serta jaminan permanen untuk mengakhiri perang. Pemerintah Iran menegaskan bahwa tuntutan tersebut sah dan bertanggung jawab, namun penolakan Trump memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat kembali meluas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....