Konflik AS-Iran: Ambang Kegagalan Diplomasi dan Bayang-Bayang Perluasan Perang
- 22 Mei 2026 20:09 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi sangat rapuh, sementara penolakan Washington terhadap proposal damai Teheran meningkatkan risiko pecahnya kembali perang regional di Timur Tengah.
- Iran menuntut penghentian serangan, pencabutan sanksi, dan pembukaan kembali Selat Hormuz, sedangkan Amerika Serikat mendesak pembatasan program nuklir Iran serta pengawasan internasional yang lebih ketat.
- ASEAN, Rusia, Tiongkok, dan sejumlah negara lain menyerukan penghentian konflik karena perang AS-Iran telah mengganggu stabilitas Timur Tengah, memicu gejolak harga energi dunia, dan mengancam ekonomi global.
Perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Oman mengalami kegagalan pada Februari 2026. Kegagalan tersebut terjadi di tengah meningkatnya konflik militer antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Situasi keamanan yang memburuk memicu kekhawatiran akan pecahnya perang regional yang lebih luas. Memasuki Maret 2026, Pakistan mulai tampil sebagai mediator utama antara Washington dan Teheran.
Islamabad aktif menyampaikan pesan diplomatik antara kedua negara untuk menekan eskalasi konflik. Pakistan berupaya menjaga komunikasi tetap terbuka di tengah meningkatnya ketegangan militer.
Pada 29 Maret 2026, Pakistan menggelar konsultasi empat negara bersama Turki, Arab Saudi, dan Mesir di Islamabad. Pertemuan tersebut bertujuan mendorong jalur diplomasi dan membuka peluang pembicaraan langsung antara Amerika Serikat dan Iran.
Negara-negara peserta menekankan pentingnya mencegah perang yang lebih besar di kawasan. Upaya diplomasi Pakistan mulai menunjukkan hasil pada 8 April 2026, dilansir dari Al Jazeera.
Islamabad membantu tercapainya gencatan senjata sementara selama dua pekan antara pihak-pihak yang bertikai. Kesepakatan itu kemudian diperpanjang untuk menjaga stabilitas kawasan.
Namun, proses negosiasi tetap menghadapi banyak hambatan. Pertemuan maraton selama 21 jam di Islamabad pada 12 April 2026 berakhir tanpa kesepakatan permanen.
Perselisihan utama tetap berkisar pada program nuklir Iran dan mekanisme pengawasan internasional. Pada 14 April 2026, Pakistan kembali mengusulkan putaran kedua perundingan langsung antara Amerika Serikat dan Iran.
Langkah itu dilakukan untuk mempertahankan gencatan senjata yang masih rapuh. Islamabad juga terus melakukan diplomasi intensif dengan berbagai negara di kawasan.
Di tengah eskalasi militer, jalur diplomasi tetap berjalan melalui bantuan negara ketiga. Sejumlah mediator terus berupaya menjembatani komunikasi antara Washington dan Teheran, pembicaraan mengenai gencatan senjata terbatas juga terus didorong.
Namun, proses tersebut berjalan lambat dan penuh hambatan. Iran menuntut penghentian serangan serta pencabutan tekanan ekonomi sebagai syarat utama dialog.
Sementara itu, Amerika Serikat menegaskan perlunya pembatasan program nuklir Iran dan perubahan kebijakan regional Teheran. Perbedaan posisi yang tajam membuat setiap putaran negosiasi sulit menghasilkan terobosan besar.
|
Selanjutnya,
Faktor yang Menghambat Kesepakatan
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....