Inflasi Terkendali, Tekanan Energi Perlu Diwaspadai

  • 20 Mei 2026 00:27 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah mulai mewaspadai tekanan baru terhadap inflasi nasional.
  • Pemerintah daerah diminta memantau dampak kenaikan energi dan kurs mata uang terhadap harga kebutuhan masyarakat.
  • Pemerintah berharap inflasi nasional tetap terjaga di tengah tekanan global.

Dalam rapat tersebut, pemerintah juga menyoroti kondisi produsen pangan. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa mengatakan harga ayam ras dan telur ayam ras justru berada di bawah HAP.

“Daging ayam ras ini di bawah HAP sudah hampir 8 persen. Telur ayam ras sudah hampir 8 persen,” kata Ketut.

Menurut dia, pemerintah tidak hanya menjaga harga di tingkat konsumen. Stabilitas harga di tingkat produsen juga mulai menjadi perhatian pemerintah.

“Jangan sampai harga sudah terlanjur bawah, demo dan lain sebagainya jangan sampai terjadi. Ini yang akan kami dorong juga untuk mengembalikan,” ucapnya.

Ketut mengatakan pemerintah mulai menyiapkan langkah penyerapan telur ayam ras bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Pertanian. Langkah itu dilakukan agar harga di tingkat peternak kembali stabil.

Di sisi lain, pemerintah tetap memberi ruang kenaikan harga gabah di tingkat petani. Harga Gabah Kering Panen (GKP) di sejumlah daerah disebut masih cukup tinggi.

“Kalau GKP ini adalah kebahagiaan petani Pak Menteri. Mereka berproduksi, ini harus kita berikan ruang juga,” katanya.

Pemerintah juga mulai membenahi distribusi Minyakita di sejumlah wilayah. Distribusi DMO minyak goreng di Jakarta dan Banten akan dipusatkan melalui Bulog.

“Semua DMO yang di DKI dan Banten ini akan didorong ke Bulog. Sehingga mudah-mudahan ini akan lebih memudahkan kita untuk memantau perkembangan harga khususnya minyak kita,” ucap Ketut.

Selain itu, penyaluran bantuan pangan Februari-Maret yang baru mencapai sekitar 30 persen akhirnya diperpanjang hingga Juni 2026. Pemerintah berharap distribusi bantuan pangan dapat membantu menahan gejolak harga beras dan minyak goreng.

“Kalau itu bisa dikeluarkan tentu bisa akan mengendalikan posisi harga. Sekaligus menstabilkan harga minyak goreng tentunya,” katanya.

Ketut mengatakan distribusi minyak goreng dalam bantuan pangan mencapai sekitar 132 ribu kiloliter. Jumlah itu dinilai cukup besar untuk membantu menjaga stabilitas harga di pasar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....