Pilah Sampah dari Rumah Jadi Harapan Baru Atasi Krisis Limbah
- 18 Mei 2026 11:56 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah mendorong pemilahan sampah dari rumah untuk mengurangi volume limbah menuju TPA.
- Gerakan pilah sampah diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, bank sampah, dan edukasi lingkungan.
- Perubahan perilaku masyarakat dinilai menjadi tantangan utama pengelolaan sampah berkelanjutan di perkotaan.
Kelurahan Rorotan di Jakarta Utara kini menjadi wilayah percontohan pengolahan sampah tingkat nasional. Program tersebut merupakan kolaborasi antara KLHK dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Program itu bertujuan mengubah pola pikir masyarakat dalam menangani limbah rumah tangga. Pemerintah mendorong warga mulai memilah sampah langsung dari sumbernya.
Sejak digencarkan pada Februari 2026, berbagai fasilitas pendukung mulai disediakan di wilayah tersebut. Sarana itu meliputi ember khusus, tong drop point, hingga sistem Loseda.
Fasilitas tersebut diharapkan mempermudah masyarakat memilah sampah organik dan non-organik dari rumah tangga. Pemerintah menilai penyediaan sarana menjadi bagian penting mendukung perubahan perilaku warga.
Meski demikian, perubahan kebiasaan masyarakat dinilai masih menjadi tantangan terbesar dalam program tersebut. Penggiat lingkungan sekaligus kader Rorotan, Nani, mengatakan respon warga masih beragam.
"Ada warga yang sudah sadar dan langsung memilah, tapi ada juga yang masih meremehkan. Alasan mereka macam-macam, mulai dari capek, bosan, sampai bertanya apakah memilah sampah organik ada uangnya," ujar Nani Ketika ditemui RRI Jakarta, Jumat. 15 Mei 2026.
Menurut Nani, edukasi mengenai pengelolaan sampah harus dilakukan secara konsisten dan sabar. Ia menilai perubahan pola pikir masyarakat tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Isu mengenai rencana penutupan TPST Bantar Gebang pada Agustus mendatang disebut mulai memicu kesadaran masyarakat. Warga mulai memikirkan dampak jika kapasitas tempat pembuangan akhir tidak lagi tersedia.
"Kabar Bantar Gebang tutup di bulan Agustus itu jadi peringatan buat warga, mereka mulai berpikir, 'kalau tutup, sampah kita mau dibuang ke mana?'. Hal ini sedikit banyak membantu kami dalam mengedukasi masyarakat agar lebih serius mengelola sampah secara mandiri," ujarnya.
Selain pengolahan sampah organik, penguatan bank sampah juga menjadi fokus pengembangan di Rorotan. Program tersebut diarahkan mendukung terbentuknya ekonomi sirkular berbasis lingkungan.
Namun, keterbatasan lahan masih menjadi kendala pengembangan titik penimbangan sampah permanen. Sebagian warga juga lebih memilih menjual sampah kepada pengepul luar karena dianggap lebih praktis.
Melalui program percontohan tersebut, pemerintah berharap Rorotan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Jakarta. Targetnya, sampah yang menuju tempat pembuangan akhir nantinya hanya berupa residu.
Persoalan sampah terus menjadi tantangan besar di berbagai daerah perkotaan Indonesia. Pemilahan sampah dinilai menjadi langkah sederhana yang memberi dampak besar bagi lingkungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....