Pilah Sampah dari Rumah Jadi Harapan Baru Atasi Krisis Limbah
- 18 Mei 2026 11:56 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah mendorong pemilahan sampah dari rumah untuk mengurangi volume limbah menuju TPA.
- Gerakan pilah sampah diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, bank sampah, dan edukasi lingkungan.
- Perubahan perilaku masyarakat dinilai menjadi tantangan utama pengelolaan sampah berkelanjutan di perkotaan.
AROMA menyengat dari tumpukan sampah masih menjadi bagian keseharian banyak kota besar di Indonesia. Setiap pagi, gerobak-gerobak sampah bergerak menyusuri gang permukiman membawa limbah rumah tangga yang bercampur tanpa pemilahan.
Sisa makanan, plastik sekali pakai, botol minuman, hingga limbah elektronik kerap berakhir dalam satu kantong yang sama. Kondisi itu membuat proses pengolahan sampah menjadi semakin sulit dilakukan di tempat pembuangan akhir.
Persoalan sampah rumah tangga kini menjadi tantangan serius di berbagai daerah perkotaan. Volume sampah terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat.
Di sisi lain, kapasitas tempat pembuangan akhir semakin terbatas. Isu mengenai rencana penutupan TPST Bantar Gebang bahkan mulai memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat perkotaan.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah memperkuat gerakan pemilahan sampah dari rumah tangga. Pemilahan sampah dinilai menjadi langkah paling mendasar untuk mengurangi beban lingkungan sekaligus menekan volume sampah menuju TPA.
Berbagai daerah mulai menjalankan pendekatan pengelolaan sampah berbasis lingkungan masyarakat. Mulai dari penyediaan bank sampah, pembangunan TPS3R, workshop daur ulang, hingga edukasi pemilahan sampah terus diperluas di tingkat RT dan RW.
Pemerintah juga mulai mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah. Sampah tidak lagi diposisikan sekadar barang buangan, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi dan manfaat lingkungan jika dikelola dengan tepat.
Di sejumlah wilayah, masyarakat mulai belajar mengolah sampah organik menjadi kompos dan ekoenzim. Sementara sampah anorganik seperti plastik, kardus, dan botol bekas mulai diarahkan masuk ke sistem daur ulang melalui bank sampah maupun waste station.
Namun, perubahan perilaku masyarakat masih menjadi tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah nasional. Banyak warga masih terbiasa membuang sampah secara bercampur karena keterbatasan fasilitas maupun rendahnya kesadaran lingkungan.
Persoalan tersebut membuat upaya pengurangan sampah tidak bisa hanya bergantung pada teknologi pengolahan semata. Pengelolaan sampah dinilai harus dimulai langsung dari sumbernya, yakni rumah tangga dan lingkungan permukiman masyarakat.
|
Selanjutnya,
Langkah Awal Gerakan Nasional Pengelolaan Sampah
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....