Krisis Energi Global 2026: Bayang-Bayang Kelangkaan BBM dan Tekanan Ekonomi Dunia
- 29 Apr 2026 17:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ketegangan di Timur Tengah, terutama gangguan di Selat Hormuz, menjadi faktor utama yang mengancam pasokan minyak dunia, sehingga memperbesar risiko kelangkaan pasokan energi dan ketidakstabilan pasar global.
- Lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan IEA memperingatkan bahwa kondisi ini dapat mendorong inflasi global, memperlambat pertumbuhan ekonomi, bahkan meningkatkan risiko stagflasi di sejumlah negara.
- Ketergantungan dunia pada minyak dan gas masih sangat tinggi, sehingga krisis energi diperkirakan tidak dapat dihindari dalam jangka pendek.
Kenaikan harga energi memiliki efek berantai terhadap perekonomian dunia. Harga minyak mentah yang lebih tinggi mendorong kenaikan biaya transportasi, produksi, hingga distribusi barang dan jasa.
Reuters mencatat bahwa tekanan inflasi akibat energi menjadi salah satu tantangan utama bank sentral di berbagai negara. Kondisi ini memaksa banyak pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas ekonomi.
IMF memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, perang tersebut akan meningkatkan inflasi dan risiko resesi, dilansir dari New York Times.
Konflik ini dinilai telah mengganggu stabilitas ekonomi dunia. Sebelumnya, ekonomi global relatif mampu bertahan dari pandemi serta perang antara Rusia dan Ukraina.
Dalam laporan World Economic Outlook, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,1 persen tahun ini. Kepala ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, menyebut prospek ekonomi global memburuk akibat meningkatnya ketidakpastian dan gejolak harga energi.
IMF juga memaparkan sejumlah skenario dampak ekonomi, dalam skenario terburuk, pertumbuhan global dapat turun hingga 2 persen. Selain penurunan pertumbuhan global, inflasi juga diperkirakan dapat mencapai 6 persen.
Sementara itu, Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva memperingatkan bahwa perang Iran akan meninggalkan dampak permanen pada ekonomi global. Ia menegaskan kondisi ini tetap terjadi meskipun kesepakatan damai berhasil dicapai.
Ia menyatakan pertumbuhan global diperkirakan melambat akibat efek “luka” ekonomi yang terjadi sejak konflik dimulai. Georgieva menegaskan tidak akan ada kembali secara cepat ke kondisi ekonomi sebelum perang.
IMF menyebut semua skenario dalam proyeksi terbarunya menunjukkan penurunan standar hidup secara permanen. Menurut Georgieva, ekonomi dunia sebenarnya memasuki konflik dengan momentum kuat dari investasi teknologi dan kondisi pasar keuangan yang mendukung.
Namun kerusakan infrastruktur, gangguan rantai pasokan, serta menurunnya kepercayaan investor diperkirakan akan menekan pertumbuhan. Ia juga menyoroti ketidakpastian pemulihan produksi minyak dan gas serta gangguan pada jalur pelayaran dan transportasi udara regional.
|
Selanjutnya,
Dampak terhadap Negara Berkembang
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....