Krisis Energi Global 2026: Bayang-Bayang Kelangkaan BBM dan Tekanan Ekonomi Dunia
- 29 Apr 2026 17:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ketegangan di Timur Tengah, terutama gangguan di Selat Hormuz, menjadi faktor utama yang mengancam pasokan minyak dunia, sehingga memperbesar risiko kelangkaan pasokan energi dan ketidakstabilan pasar global.
- Lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan IEA memperingatkan bahwa kondisi ini dapat mendorong inflasi global, memperlambat pertumbuhan ekonomi, bahkan meningkatkan risiko stagflasi di sejumlah negara.
- Ketergantungan dunia pada minyak dan gas masih sangat tinggi, sehingga krisis energi diperkirakan tidak dapat dihindari dalam jangka pendek.
Salah satu faktor utama yang mendorong kekhawatiran krisis energi adalah meningkatnya ketegangan di wilayah-wilayah penghasil minyak utama dunia, terutama di Timur Tengah. Kawasan ini masih menjadi pusat vital bagi distribusi energi global melalui jalur pelayaran strategis.
Saat ini, Selat Hormuz masih terganggu akibat konflik yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran. Gangguan ini telah berlangsung hampir dua bulan dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi jalur vital bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, kini berubah menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik tersebut. Jalur ini bahkan digunakan sebagai alat tawar-menawar dalam proses negosiasi damai yang masih tidak stabil.
Melansir dari CNBC, blokade di kawasan tersebut telah mendorong kenaikan harga energi global secara signifikan. Selain itu, blokade tersebut juga menyoroti betapa rentannya sistem energi dunia terhadap gangguan di titik-titik sempit atau chokepoints, seperti Selat Hormuz, Terusan Suez, dan Terusan Panama.
Direktur IEA menyebut dunia terlalu lama bergantung pada jalur-jalur sempit tersebut. Ia juga menilai bahwa gangguan kecil di kawasan strategis dapat mengguncang ekonomi global.
Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut. Kapasitas alternatif yang ada saat ini dinilai belum memadai untuk menggantikan peran Hormuz secara penuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....