Kisah Nabi Ibrahim dalam Sejarah Idul Adha

Ilustrasi (foto:istimewa)

KBRN, Jakarta: Hari Raya Idul Adha dikenal dengan sebutan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. 

Dalam pelaksanaannya, mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang di sebut pakaian ihram, melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan.

Tidak dapat dibedakan antara mereka, semuanya merasa sederajat. Sama- sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa, sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah.

Di samping Idul Adha dinamakan hari raya haji, juga dinamakan “Idul Qurban”, karena merupakan hari raya yang menekankan pada arti berkorban. Qurban itu sendiri artinya dekat, sehingga Qurban ialah menyembelih hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, diberikan kepada fuqara’ wal masaakiin.

Melansir dari jabar.nu.or.id, Selasa (20/7/2021) Idul Adha yang kita peringati saat ini, dinamai juga “Idul Nahr” artinya hari menyembelih hewan ternak. 

Sejarahnya adalah bermula dari ujian paling berat yang menimpa Nabiyullah Ibrahim. Disebabkan kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan khalilullah (kekasih Allah).

Maaikat bertanya kepada Allah: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu. Padahal ia disibukkan oleh urusan kekayaannya dan keluarganya?” 

Allah berfirman: “Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan amal bhaktinya!”Kemudian Allah SWT mengizinkan para malaikat menguji keimanan serta ketaqwaan Nabi Ibrahim. 

Ternyata, kekayaan dan keluarganya dan tidak membuatnya lalai dalam taatnya kepada Allah.Dalam kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa konon, Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta.

Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong miliuner. Ketika pada suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang “milik siapa ternak sebanyak ini?” 

Maka dijawabnya: “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku, niscaya akan aku serahkan juga.”

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’anul 'Adzim mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji Iman dan Taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. 

Seorang anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! 

Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS As-shaffat: 102).

Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah. Iblis datang menggoda sang ayah, sang ibu dan sang anak silih berganti. 

Akan tetapi Nabi Ibrahim, Siti hajar dan Nabi Ismail tidak tergoyah oleh bujuk rayuan iblis yang menggoda agar membatalkan niatnya. Bahkan Siti Hajar pun mengatakan: ”jika memang benar perintah Allah, aku pun siap untuk di sembelih sebagai gantinya Ismail.” 

Mereka melempar iblis dengan batu, mengusirnya pergi dan Iblis pun lari tunggang langgang. Dan ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah, jumrotul ula, wustha, dan aqabah yang dilaksanakan di Mina.

Setelah sampai di suatu tempat, dalam keadaan tenang Ismail berkata kepada ayahnya : 

”ayah, ku harap kaki dan tanganku diikat, supaya aku tidak dapat bergerak leluasa, sehingga menyusahkan ayah. Hadapkan mukaku ke tanah, supaya tidak melihatnya, sebab kalau ayah melihat nanti akan merasa kasihan. Lepaskan bajuku, agar tidak terkena darah yang nantinya menimbulkan kenangan yang menyedihkan"

Tidak hanya itu, Ismail pada saat itu juga meminta sang ayah untuk mengasah tajam tajam pisau, agar penyembelihan berjalan singkat, karena menurutnya sakaratul maut dahsyat sekali. 

"Berikan bajuku kepada ibu untuk kenang- kenangan serta sampaikan salamku kepadanya supaya dia tetap sabar, saya dilindungi Allah SWT, jangan cerita bagaimana ayah mengikat tanganku. Jangan izinkan anak-anak sebayaku datang ke rumah, agar kesedihan ibu tidak terulang kembali, dan apabila ayah melihat anak- anak sebayaku, janganlah terlampau jauh untuk diperhatikan," ucap Ibrahim.

Nabi Ibrahim AS menjawab ”baiklah anakku, Allah SWT akan menolongmu”. 

Setelah Ismail, putra tercinta ditelentangkan di atas sebuah batu, dan pisau pun diletakkan di atas lehernya, Ibrahim pun menyembelih dengan menekan pisau itu  kuat- kuat, namun tidak mempan, bahkan tergores pun tidak.

Pada saat itu, Allah SWT membuka dinding yang menghalangi pandangan malaikat di langit dan di bumi, mereka tunduk dan sujud kepada Allah SWT, takjub menyaksikan keduanya. 

”lihatlah hambaku itu, rela dan senang hati menyembelih anaknya sendiri dengan pisau, karena semata-mata untuk memperoleh kerelaanku."

Sementara itu, Ismail pun berkata : ”ayah.. bukalah ikatan kaki dan tanganku, agar Allah SWT tidak melihatku dalam keadaan terpaksa, dan letakkan pisau itu di leherku, supaya malaikat menyaksikan putra khalilullah Ibrahim taat dan patuh kepada perintah-Nya.” 

Ibrahim mengabulkannya. Lantas membuka ikatan dan menekan pisau itu ke lehernya kuat- kuat, namun lehernya tidak apa-apa, bahkan bila ditekan, pisau itu berbalik, yang tajam berada di bagian atas.

Ibrahim mencoba memotongkan pisau itu ke sebuah batu, ternyata batu yang keras itu terbelah. 

”Hai pisau, engkau sanggup membelah batu, tapi kenapa tidak sanggup memotong leher” kata Ibrahim. 

Dengan izin Allah SWT, pisau itu menjawab, ”Anda katakan potonglah, tapi Allah mengatakan jangan potong, mana mungkin aku memenuhi perintahmu wahai ibrahim, jika akibatnya akan durhaka kepada Allah SWT”. 

Pada saat itu Allah SWT memerintahkan Jibril untuk mengambil seekor kibasy dari surga sebagai gantinya. Dan Allah SWT berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannya, tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. 

Allah SWT telah meridhai ayah dan anak memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban. (imr)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00