Cara Merawat Tosan Aji dan Keris Agar Awet dan Tidak Mudah Rusak

  • 10 Sep 2024 22:33 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang : Banyak dari masyarakat Jawa memiliki pusaka warisan orang tua atau leluhurnya tersimpan rapi dalam lemari sebagai warisan keramat yang harus dijaga keberadaannya kelestariannya sebagai wujud penghormatan kepada para leluhurnya. Kadang ada yang menganggapnya sebagai pusaka Sinengker sehingga orang diluar keluarganya tidak boleh melihat wujudnya dan dengan perawatan yang minim dan tidak pernah dibuka menyebabkan pusaka tersebut akan timbul karat selama bertahun tahun dan malah membuat pusaka tersebut rusak dan mengecil karena termakan oleh karat dari besi pusaka itu sendiri.

Eddy Indra Putra, Kolektor dan ketua Asosiasi Pecinta Keris (APIK), menjelaskan bahwa ada beberpa tradisi yang sering dilakukan masyaratkat dalam merawat dan menjaga keris peninggalan agar tetap utuh seperti aslinya.

"Pada intinya ngumbah keris (memandikan keris) adalah gabungan dari dua kegiatan; menjamas keris dan mewarangi keris," ujarnya, Selasa (10/9/2024).

Menjamas keris adalah aktivitas budaya untuk merawat pusaka secara adat biasanya dilakukan pada bulan tertentu (biasanya sasi Suro) dengan anggapan umum bahwa bulan tersebut adalah bulan sakral bagi laku Jawa dan kebatinan( adat Keraton di Jawa). Dalam kegiatan tersebut biasanya dilakukan secara massal.

Pusaka yang dijamas akan dikurangi sisa minyak dan kotoran karat yang timbul dan dibilas dengan air bunga kemudian diminyak, diberi dupa serta dinaikkan doa doa kepada leluhur dan memohon kepada Allah SWT agar pusaka yang sudah dijamas tersebut membawa manfaat dan keberkahan bagi keluarga yang memilikinya.

Sedangkan Mewarangi keris adalah aktivitas yang dilakukan oleh seorang yang berprofesi sebagai ahli merawat pusaka dan biasanya juga bersama membuat memperbaiki warangka pusaka,profesi tersebut biasanya akrab sebagai tukang mranggi dalam masyarakat Jawa.

Ada pembeda dengan proses jamasan, proses yang dilakukan ini dengan menggunakan air warangan untuk menampakkan pamor pusaka. Larutan warangan yang digunakan adalah asam arsenik yaitu fermentasi dari air perasan jeruk nipis yang menghasilkan asam dan bubuk arsenik.

Warangan akan menempel di bahan besi dan baja pusaka sehingga akan menghasilkan gradasi warna hitam pada pusaka tetapi tidak menempel di bahan pamornya yang berbahan besi meteorit sehingga menimbulkan gradasi yang tampak putih.

"Anggapan umum bahwa mewarangi pusaka supaya beracun atau ditempeli racun adalah anggapan yang kurang tepat. Meskipun bahan yang dipakai arsenik termasuk dalam kategori racun dengan kwalifikasi tinggi tetapi tidak berbahaya untuk tujuan mewarangi pusaka," jelas Eddy.

Ia menambahkan, setelah mengetahui ulasan perawatan keris di harapkan para kalolektor dan pecinta Tosan Aji ataupun masyarakat yang memiliki pusaka dapat menjaga dan merawat peninggalan para leluluhur lebih baik lagi. "Saya sarankan untuk pergi ke jasa pencuci keris professional apabila tidak mengetahui cara membersihkan dan merawat tosan aji dengan baik," pungkasnya. (dwi)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....