Tren Cosplay Budaya Jepang terhadap Budaya Di Kaltim

  • 02 Jan 2024 08:00 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda : Cosplay (costume player) dari budaya Jepang sudah tidak jarang ditemukan di setiap kalangan masyarakat. Tren ini marak muncul di Indonesia pada kisaran tahun 2000an dan kini hadir hampir di setiap kota besar di Indonesia. Akibat perkembangan teknologi dan globalisasi menjadikan tren cosplay menjadi budaya baru di Indonesia dan tentunya memberikan pengaruh terhadap perilaku mulai dari anak kecil hingga orang dewasa.

Fenomena cosplay dianggap menjadi wadah hiburan dan sarana dalam mengekspresikan diri bagi pecinta anime Jepang. Tren cosplay dari budaya Jepang sendiri tidak hanya sebatas tren memakai kostum dengan meniru gaya fisik karakter dari anime, manga, atau game Jepang namun juga bagaimana mereka membangun karakter yang ditirukan.

Tidak jarang mereka membuat kostum sendiri dengan keterampilan mendesain, menjahit, hingga membuat kostum dengan teknik unik dan canggih untuk dapat meniru karakter anime yang mereka sukai. Tidak hanya itu, sebagian dari mereka juga pandai dalam ber-make up serta acting untuk memberi nilai tambah pada karakter yang mereka tiru. Disanalah letak kreativitas mereka sebenarnya yang kerap kali menjadi daya tarik bagi orang lain yang melihatnya.

Tren cosplay membutuhkan banyak biaya sehingga besar kemungkinan mengajarkan perilaku untuk bergaya hidup hedonis. Tidak jarang cosplayer yang ingin mengikuti event cosplay menyewa ataupun membeli kostum dengan harga mahal. Belum lagi kecenderungan perilaku yang membuat mereka ikut-ikutan dalam merayakan dan memeriahkan hari spesial budaya asing.

Dari hadirnya para penggemar anime dan cosplayer, memunculkan stereotype di Indonesia dengan sebutan ‘wibu’. Sebutan ini sering kali dilekatkan kepada orang-orang yang mencintai budaya Jepang secara berlebihan. Hal tersebut kadang kala membuat mereka tidak diterima di lingkungan sosial karena dianggap sebagai kaum minoritas. Tidak jarang juga ditemukan kasus perundungan dan diskriminasi yang diterima oleh mereka.

Apabila sesuatu sudah dianggap sebagai sebuah ‘tren’ maka besar kemungkinan orang-orang lain yang bahkan tidak menyukai atau tidak menonton hal-hal yang berbau Jepang akan ikut berpartisipasi dan menormalisasikan hal itu. Lambat laun tren cosplay jika tidak difilter akan membuat lunturnya nilai-nilai yang dianut, terlebih lagi banyak anak-anak dan remaja sekarang yang mengikuti apa yang mereka lihat dan menurut mereka keren. Kemampuan mereka masih kurang dalam memastikan hal tersebut sebenarnya baik atau tidak untuk dirinya, hal inilah yang membuat seharusnya orang tua memberikan pengawasan terhadap perilaku anak.

Harapannya setelah ini semoga para cosplayer tidak lagi menutup mata dan telinga mereka, mereka boleh untuk menyalurkan hobby dan kesenangan ketika itu masih dalam batas wajar dan tidak dalam jangka waktu ‘sering’, mereka harus bisa melihat dampaknya bagi perilaku yang melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang ada di masyarakat khususnya di Kaltim.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....