Perempuan Todanara Rajut Identitas Lewat Tenun Tradisional

  • 13 Nov 2025 13:06 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Di kaki Gunung Ile Ape, tepatnya di Desa Todanara, tangan-tangan perempuan bekerja sabar di atas alat tenun tradisional. Suara gedogan berpadu dengan desir angin laut menjadi musik alami yang menemani mereka menenun benang menjadi selembar kain penuh makna.

Bagi perempuan Todanara, menenun bukan sekadar pekerjaan, tetapi cara menjaga jati diri dan melestarikan warisan leluhur. Tokoh masyarakat Ile Ape, Mathias Langodai, mengatakan bahwa menenun telah menjadi identitas perempuan di wilayah ini sejak dulu.

“Menenun bukan hanya pekerjaan ekonomi, tapi simbol kedewasaan dan kehormatan bagi perempuan Ile Ape, termasuk di Todanara. Hanya perempuan yang menenun, karena itu bagian dari identitas mereka,” ujar Mathias.

Ia menjelaskan, setiap motif kain tenun Ile Ape memiliki makna adat tersendiri. Sarung merah atau Wate Mea digunakan dalam upacara Balas Gading pada perkawinan adat, sedangkan Wate Hebe dan Wate Krokong digunakan untuk Witi Bleu atau balasan hewan.

“Sarung Wate hanya boleh dipakai perempuan, sedangkan Nowing untuk laki-laki,” katanya.

Nilai ekonominya pun tidak kecil. Harga Wate Mea bisa mencapai Rp25 juta, Wate Hebe sekitar Rp6 juta, dan Wate Krokong sekitar Rp3,5 juta. Namun Mathias menegaskan, nilai sejati tenun bukan pada harganya, melainkan pada filosofi dan sejarah di baliknya.

“Kita sebagai generasi penerus jangan hanya pandai menjual, tapi juga harus tahu makna kain itu. Di situlah cara kita menghargai leluhur,” katanya.

Sinta, seorang penenun senior dari Desa Todanara, menjadi salah satu contoh penerus tradisi tersebut. Sejak usia belasan, ia telah belajar menenun dari ibunya. Kini, hasil karyanya sudah dikenal hingga ke luar desa.

“Setiap kali menenun, saya merasa seperti berbicara dengan nenek moyang. Tenun bukan hanya kain, tapi doa dan kebanggaan,” ujar Sinta sambil merapikan benang di alat tenunnya.

Menurut Sinta, proses membuat selembar kain tenun memerlukan waktu panjang dan kesabaran. Dimulai dari menanam kapas dan bahan pewarna alami seperti daun mengkudu untuk merah, tarum untuk biru, kunyit untuk kuning, hingga kulit mangga untuk hijau.

Kapas dipetik, dipisahkan dari bijinya dengan alat tradisional yang disebut Balo, lalu dipintal menjadi benang (Tuhe). Setelah melalui proses pewarnaan dan pengeringan, barulah benang masuk tahap Neke Tane, proses inti menenun.

Tenun Todanara dikenal karena keindahan motifnya yang khas serta filosofi yang menyatu dalam setiap helai benang. Warna-warna alami yang dihasilkan dari alam sekitar menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan.

Di tengah arus modernisasi dan serbuan produk tekstil pabrikan, perempuan Todanara tetap setia menjaga warisan ini. Melalui tenun, mereka tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga menegaskan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam merawat kebudayaan lokal.

Bagi Sinta dan para penenun Todanara, menenun adalah bentuk cinta kepada tanah, leluhur, dan masa depan. Setiap helai kain adalah cerita, setiap motif adalah doa, dan setiap hasil tenunan adalah bukti bahwa budaya Ile Ape masih hidup dan berdenyut kuat di tangan-tangan perempuan Todanara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....