Kisah Ojol Sulaeman, Di Atas Motor dan Harapan

  • 17 Okt 2025 15:32 WIB
  •  Bandung

KBRN, Cimahi: Di tengah lalu-lalang kendaraan dan hiruk pikuk aktivitas Kota Cimahi, sosok laki-laki paruh baya terlihat duduk di atas sepeda motornya. Rambutnya dipenuhi uban, wajahnya menampakkan letih yang sulit disembunyikan.

Sesekali ia menunduk, mengecek ponsel, berharap ada notifikasi pesanan masuk. Namun layar itu hanya menampilkan kesunyian digital.

Namanya Sulaeman. Usianya 47 tahun. Sudah delapan tahun ia mengandalkan hidup dari balik kemudi motor, sebagai driver ojek online.

“Dulu saya nggak pernah membayangkan akan jadi ojol, tapi apa daya, ini jalan terakhir.” ujar Sulaeman kepada RRI, Jumat (17/10/2025).

Baca juga : Mengangkat Peran Perempuan Desa Dalam Pembangunan Negeri

Bagi Sulaeman, menjadi driver ojol bukanlah mimpi, melainkan keputusan yang lahir dari keterpaksaan. Dahulu, ia pernah menjadi kepala toko retail di Bandung, bahkan sempat bekerja di restoran.

Ia juga memiliki pengalaman di bidang pengadaan barang dan perbankan. Tapi semua itu seakan tak berarti saat usianya menyentuh angka 40-an.

“Zaman sekarang, usia jadi pertimbangan utama. Perusahaan jarang mau terima orang seumur saya,” katanya lirih.

Dengan segala keterbatasan, ia memilih bertahan. Menjadi driver ojol adalah satu-satunya cara untuk tetap bisa menafkahi istri dan anaknya.

Setiap hari, sejak pukul 5 pagi, ia sudah siap melaju, menembus kabut, hujan, hingga terik matahari. Tak jarang ia baru pulang larut malam.

Sulaeman mengakui, dunia ojek online kini tak seperti dulu. Lima tahun lalu, persaingan belum seketat sekarang. Jumlah driver masih sedikit, peluang masih terbuka lebar. Kini, ratusan hingga ribuan jaket hijau, biru, dan oranye berseliweran di jalanan. Semua berebut satu hal: pesanan.

“Sekarang, buat dapat seratus ribu aja harus kerja dari pagi banget sampai malam. Kadang malah nggak dapet sama sekali,” ucapnya.

Baca juga : Inilah Cara Melindungi Kulit Saat Cuaca Panas Ekstrem

Saat orderan sepi, ia hanya bisa duduk di pinggir jalan, merebahkan tubuh di atas motor, berharap. Tak jarang ia harus meminjam uang hanya untuk bisa menyambung hidup. Meski hasil yang ia dapat kadang hanya cukup untuk makan sehari-hari, Sulaeman tak menyerah.

Meski tubuhnya sudah tak sekuat dulu, Sulaeman tetap memaksakan diri. Ia menderita vertigo yang bisa kambuh kapan saja, belum lagi masuk angin yang kerap mengganggu akibat terlalu sering terpapar angin malam.

Namun satu hal yang tak pernah ia lepaskan adalah semangat. Baginya, setiap pesanan adalah rezeki. Setiap penumpang adalah harapan. Setiap perjalanan adalah perjuangan.

“Apa yang saya lakukan ini bukan cuma buat saya. Ini buat anak saya, buat istri saya, yang penting saya masih bisa kerja. Saya hanya minta satu: diberi kesehatan.” katanya.

Kisah Bapak Sulaeman adalah potret dari banyak pekerja informal yang tak punya pilihan lain selain bertahan. Di usia yang dianggap “tak lagi produktif” oleh industri, mereka masih terus berjuang, bukan hanya untuk mencari nafkah, tapi juga menjaga martabat.

Banyak dari mereka dulunya punya pekerjaan tetap, bahkan keahlian khusus. Namun dunia kerja modern yang makin kompetitif sering menutup pintu bagi mereka yang menua. Padahal, semangat dan etos kerja seperti Sulaeman seringkali jauh melampaui mereka yang lebih muda.

Satu hal yang membuatnya terus bertahan adalah rasa syukur. Meski hidup tak mudah, ia masih punya kesempatan untuk bergerak, untuk berharap.

Kisah Bapak Sulaeman mengajarkan kita untuk lebih menghargai setiap profesi, setiap manusia. Bahwa di balik helm dan jaket ojol, ada kepala keluarga yang sedang mempertaruhkan segalanya demi sesuap nasi.

Karena hidup adalah perjalanan panjang yang harus dijalani. Pahit dan manis, tetap harus dijalani dengan ikhlas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....