Semana Santa Larantuka, Ziarah Iman Dan Tradisi Menyatu

  • 10 Apr 2025 09:02 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Di sudut timur Indonesia, tepatnya di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, perayaan Paskah bukan sekadar ritual tahunan. Semana Santa, yang berarti "Pekan Suci", menjadi simbol kuatnya warisan iman Katolik yang telah berakar selama lebih dari lima abad, membaur erat dengan budaya lokal yang sakral dan hidup.

Semana Santa bukan hanya milik umat Katolik Larantuka, tetapi juga menjadi momen ziarah dan perenungan bagi ribuan peziarah dari berbagai penjuru tanah air, bahkan mancanegara. Dimulai dari masa Prapaskah hingga Minggu Paskah, seluruh kota seolah berhenti bernapas dalam keheningan doa dan cahaya lilin. Tak ada aktivitas duniawi, toko-toko tutup, jalanan dibersihkan, dan kehidupan kota melambat menjadi ruang kontemplasi terbuka. Di sinilah keheningan menjadi nyanyian, dan cahaya lilin menggantikan sorotan lampu kota.

Tradisi ini tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Larantuka sebagai kerajaan Katolik tertua di Nusantara. Sejak abad ke-15, ajaran Katolik dibawa para misionaris Portugis ke wilayah ini. Pada tahun 1665, Raja Larantuka ke-11, Don Fransisco Ola Adobala Diaz Vieira de Godinho, memeluk agama Katolik dan menetapkan Bunda Maria sebagai Ratu Kerajaan. Keputusan itu menjadi tonggak penting yang memperkuat akar iman Katolik di Larantuka, akar yang tetap tumbuh, bahkan ketika wilayah ini kehilangan bimbingan pastoral selama hampir delapan dekade. Dalam keterbatasan itu, umat tetap menjaga iman lewat doa Rosario bersama setiap Sabtu, yang kemudian menjadi cikal bakal Semana Santa.

Salah satu prosesi utama yang paling dinanti adalah Prosesi Bahari, sebuah ritual sakral yang menyatukan laut dan langit dalam kidung pujian. Sebuah kapal tradisional bernama Berok, beratapkan daun gebang, membawa peti berisi patung Yesus Tersalib dari Pantai Kota menuju Pantai Kuce Pohon Sirih. Di tengah lautan, kapal itu dikawal puluhan perahu kecil dan kapal besar yang dipenuhi umat berdoa. Hanya enam orang terpilih yang boleh naik ke dalam Berok, mereka yang telah melalui masa penyucian diri. Air laut yang masuk ke dalam kapal diyakini membawa berkat dan kerap diambil sebagai air suci oleh para peziarah.

Namun momen puncak dari Semana Santa berlangsung pada malam Jumat Agung, dalam prosesi sakral yang disebut “Cium Tuan.” Arca Yesus Kristus (Tuan Ana) dan Bunda Maria (Tuan Ma) diarak mengelilingi kota. Jalan-jalan berubah menjadi altar terbuka, diterangi ribuan lilin, tempat ribuan umat menundukkan kepala dalam doa. Dalam suasana sunyi yang sarat makna, umat melantunkan Salam Maria dalam bahasa Latin dan Portugis kuno, mengenang penderitaan Kristus dan meresapinya dalam hati yang penuh iman.

Prosesi ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan napas hidup yang mempersatukan iman dan budaya. Di baliknya, ada 13 suku Semana yang menjaga dan menyelenggarakan seluruh rangkaian kegiatan. Mereka bukan hanya panitia, melainkan pewaris sejarah rohani dan penjaga warisan yang hidup. Tak ada catatan pasti kapan Semana Santa pertama kali dimulai, namun keberlangsungannya yang utuh hingga kini adalah bukti nyata bahwa tradisi suci ini telah melewati ujian waktu dengan cinta dan ketulusan.

Selama pekan suci ini, Larantuka benar-benar melepaskan hiruk-pikuk dunia. Seperti umat Hindu saat Nyepi, masyarakat menanggalkan urusan duniawi, memilih diam dan menenggelamkan diri dalam refleksi batin. Tak ada hiburan, tak ada keramaian—hanya hening, lilin, dan doa.

Semana Santa adalah saksi bisu bahwa iman sejati tidak harus lantang. Ia bisa hadir lewat langkah perlahan, nyala lilin di sepanjang jalan, dan doa lirih dari hati-hati yang tak pernah lelah percaya. Jika iman adalah perjalanan, maka Semana Santa di Larantuka adalah jalur ziarahnya, sunyi, teduh, dan tak lekang oleh waktu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....