Pulau Solor: Jejak Kerajaan Islam Pertama Flores
- 08 Mar 2025 10:34 WIB
- Ende
KBRN, Ende: Pulau Solor, yang berada di Kabupaten Flores Timur, NTT menyimpan sejarah panjang pengaruh Islam di Flores yang dimulai sejak abad ke-15. Wilayah yang meliputi Pulau Solor, Pulau Adonara, Pulau Lembata, Pantar, Alor, dan beberapa pulau kecil ini ternyata pernah menjadi bagian dari kerajaan Islam yang berpengaruh di kawasan Timur Indonesia.
Drs. Syarifuddin Gomang, seorang sosiolog dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa pengaruh Islam di Kepulauan Solor bermula dari Kerajaan Ternate. Pada puncak kejayaannya, Sultan Baabullah dari Ternate, yang membalas pembunuhan ayahnya Sultan Hairun oleh Portugis, menguasai wilayah yang luas, termasuk Kepulauan Solor.
Sultan Baabullah mengirim keponakannya, Kaichili Ulan, untuk merekrut orang-orang di Maluku dan menyusun serangan ke Portugis yang sedang menduduki Benteng Lohayong di Pulau Solor pada tahun 1574. Kaichili Ulan bersama pasukannya, termasuk bangsawan Ternate, akhirnya menetap di Solor dan menyebarkan Islam di kawasan tersebut.
Salah satu tokoh terkenal yang muncul dari peristiwa ini adalah Sultan Syarif Sahar, yang memimpin perlawanan melawan Portugis. Setelah bersekutu dengan VOC, Sultan Syarif, yang kemudian dikenal dengan nama Atu Laganama, turut memperkenalkan Islam di Kupang, menjadi penyebar agama Islam pertama di sekitar Batu Besi, Kupang.
Sejak saat itu, Islam mulai berkembang di daerah pesisir di Solor, Adonara, Lembata, Pantar, Alor, dan pulau-pulau kecil lainnya. Pada abad ke-17, Kerajaan Islam di Lohayong, Solor, di bawah pemerintahan Nyai Chili Muda, mengalami kejayaan.
Pada tahun 1663, Nyai Chili Muda mengirim surat kepada Gubernur Jenderal VOC di Batavia, menunjukkan pengaruh besar kerajaan Islam ini di kawasan tersebut. Namun, meskipun VOC telah menguasai Solor sejak 1646, Sultan Ternate baru menyerahkan wilayah ini pada tahun 1683, menandai berakhirnya pengaruh Kerajaan Ternate di kawasan tersebut.
Penelitian lain oleh Drs. Munandjar Widyatmika juga mengungkapkan bahwa wilayah Solor menjadi salah satu pusat penyebaran Islam setelah Kerajaan Majapahit. Lohayong, yang terletak strategis, menjadi tempat transit bagi pedagang Islam dari Jawa dan Sulawesi. Islam pun berkembang pesat di Solor, Adonara, dan Lembata, hingga kini masih terdapat perkampungan Muslim yang tersebar di beberapa pantai di wilayah ini, seperti Lohayong dan Lamakera di Solor, Lamahala dan Terong di Adonara, serta Lebala di Lembata.
Perkampungan-perkampungan ini, yang dikenal dengan nama "Solor Watan Lema," menjadi saksi bisu dari pengaruh besar Islam yang tersebar di daerah pesisir ini. Meski kini mayoritas penduduk di wilayah ini memeluk agama Katolik, sejarah Islam di kepulauan Solor tetap tertanam kuat, menjadi bagian dari kekayaan budaya dan sejarah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Jejak sejarah ini mengingatkan kita bahwa meskipun pengaruh Katolik kini mendominasi, namun jejak Islam tetap hidup dan berkembang di kawasan ini, memberikan kontribusi pada kekayaan budaya dan keragaman agama yang ada di NTT.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....